Custom Search
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Penjara Dalam Krisis

A prisoner in his cell








Penjara dalam Krisis




”Mendirikan lebih banyak penjara untuk menuntaskan kejahatan sama saja dengan membangun lebih banyak kuburan untuk menuntaskan penyakit yang memautkan.”—ROBERT GANGI, PAKAR REHABILITASI.



DALAM dunia yang sering memperhalus istilah-istilah dalam realita, kata ”penjara”, yang kedengarannya buruk, disebut dengan istilah lain. Orang-orang lebih suka menggunakan istilah ”lembaga pemasyarakatan”, yang menyediakan ”pelatihan keterampilan” dan ”pelayanan sosial”. Namun, kalau kita melihat di balik itu, ternyata dewasa ini penjara sedang menghadapi masalah yang serius, seperti membubungnya biaya untuk mengurung para pelanggar hukum dan semakin tidak tercapainya tujuan dari pemenjaraan itu sendiri.

Beberapa orang meragukan keefektifan penjara. Mereka melihat bahwa meskipun jumlah narapidana di seluruh dunia telah meningkat hingga lebih dari delapan juta, angka kejahatan di banyak negeri tidak kunjung menurun. Selain itu, meskipun sejumlah besar narapidana dipenjarakan karena melakukan kejahatan yang melibatkan narkoba, ketersediaan barang maksiat itu di jalanan masih merupakan masalah yang sangat memprihatinkan.

Kendati demikian, banyak orang menganggap pemenjaraan sebagai hukuman yang tepat. Mereka merasa bahwa sewaktu si pelanggar hukum dipenjarakan, keadilan telah dijalankan. Seorang wartawati melukiskan antusiasme untuk memenjarakan para pelanggar hukum sebagai ”demam kurung-mereka” (lock-’em-up fever).

Ada empat alasan utama mengapa para pelanggar hukum dipenjarakan: (1) untuk menghukum mereka, (2) untuk melindungi masyarakat, (3) untuk mencegah kejahatan, dan (4) untuk merehabilitasi para pelanggar hukum, mengajar mereka agar taat hukum dan menjadi orang berguna bila mereka bebas nanti. Mari kita lihat apakah penjara telah mencapai tujuan-tujuan ini.




Apakah Solusinya Malah Turut Memperburuk Masalahnya?


”Merendahkan harga diri dan meruntuhkan moral narapidana adalah cara terburuk untuk mempersiapkan mereka menghadapi dunia luar.”—SEBUAH TAJUK RENCANA DI THE ATLANTA CONSTITUTION.



DALAM banyak kasus, penjara hanya bertindak sebagai alat pembatas gerak—untuk sementara. Sewaktu seorang narapidana dibebaskan, apakah ia sudah benar-benar menebus kejahatannya? Bagaimana dengan para korban atau sanak keluarga mereka? ”Sayalah ibu dari anak yang terbunuh,” ratap Rita sewaktu sang narapidana yang membunuh putranya yang berusia 16 tahun dibebaskan setelah menjalani hukuman hanya tiga tahun. ”Coba pikir. Apa-apaan ini?” Sebagaimana diperlihatkan dalam kasus Rita, tragedi sering kali tak kunjung hilang meskipun kasusnya sudah lama ditutup dan beritanya sudah tidak lagi dimuat di surat kabar.

Masalah ini bukan saja menjadi perhatian bagi orang-orang yang pernah menjadi korban kejahatan melainkan juga bagi semua orang lain. Lagi pula, entah narapidana yang dibebaskan sudah benar-benar terehabilitasi atau malah bertambah jahat akibat apa yang mereka alami di penjara berdampak langsung terhadap kedamaian pikiran Anda bahkan mungkin terhadap keselamatan Anda.

Sekolah bagi Pelanggar Hukum

Sistem penjara tidak selalu dapat sepenuhnya menekan perilaku kejahatan. ”Kalau uang digunakan untuk membangun lebih banyak sel penjara dan bukannya membangun kembali citra diri para narapidana, hal ini sering kali hanya akan mengakibatkan lebih banyak kejahatan—dan lebih buruk,” tulis Jill Smolowe dalam majalah Time. Peter, yang telah dipenjarakan selama 14 tahun, sependapat dengan pernyataan di atas. ”Kebanyakan rekan narapidana saya mulai dengan kejahatan kecil, kemudian meningkat ke kejahatan harta milik, dan akhirnya lulus dengan melakukan pelanggaran serius terhadap manusia lain,” katanya. ”Bagi mereka, penjara bagaikan sekolah kejuruan. Mereka akan lebih buruk sekeluarnya dari situ.”

Meskipun penjara mungkin untuk sementara menahan para kriminal agar tidak berkeliaran, tampaknya tidak banyak yang dicapai—kalau pun ada—untuk mencegah kejahatan dalam jangka panjang. Anak-anak dan para pemuda kota sering memandang pemenjaraan sebagai syarat menjadi pria. Sering kali, mereka akhirnya justru menjadi pelanggar hukum kelas berat. ”Penjara sama sekali tidak merehabilitasi para pelanggar hukum,” kata Larry, yang selama hidupnya sering keluar-masuk penjara. ”Orang-orang ini keluar dari penjara dan tetap saja melakukan hal yang sama lagi.”

Lingkaran setan ini mungkin menjelaskan mengapa, menurut sebuah penelitian di Amerika Serikat, 50 persen dari semua kejahatan serius dilakukan oleh sekitar 5 persen dari para kriminal. ”Sewaktu para narapidana tidak memiliki cara yang konstruktif untuk menggunakan waktu mereka,” kata majalah Time, ”mereka sering mengisi waktu dengan menimbun kejengkelan, belum lagi memikirkan teknik-teknik kejahatan, yang . . . akan mereka gunakan sekeluarnya dari penjara.”

Situasi ini bukan saja terjadi di Amerika Serikat. John Vatis, seorang dokter di penjara militer di Yunani, menyatakan, ”Penjara kami sangat efisien dalam menghasilkan orang-orang yang berbahaya, kejam, dan garang. Sewaktu dibebaskan, kebanyakan narapidana ingin membalas dendam kepada masyarakat.”

Kerugian Sosial

Krisis penjara rupanya juga berpengaruh terhadap keuangan Anda. Misalnya, diperkirakan bahwa di Amerika Serikat, pemerintah menggunakan uang dari para pembayar pajak kira-kira 21.000 dolar per tahun untuk setiap narapidana. Biayanya bisa mencapai tiga kali lipatnya untuk narapidana yang berusia di atas 60 tahun. Di banyak negeri, ada alasan-alasan lain lagi yang membuat keyakinan publik terhadap sistem penjara semakin pudar. Ada kekhawatiran mengenai pelanggar hukum yang dibebaskan sebelum waktunya dan juga pelanggar hukum yang sepenuhnya berhasil menghindari hukuman penjara karena pengacaranya yang lihai menemukan celah-celah hukum yang membebaskannya. Biasanya, korban tidak merasa cukup dilindungi dari pelanggar hukum yang sudah bebas, dan mungkin korban tidak bisa berbuat banyak dalam proses hukumnya.

Keprihatinan Publik Bertambah

Keyakinan publik terhadap sistem penjara tidak akan bertambah dengan adanya kondisi yang tidak manusiawi yang dialami para narapidana, sebagaimana digambarkan di kotak sisipan. Narapidana yang menderita perlakuan tidak adil sewaktu menjalani hukuman kemungkinan besar tidak akan bisa lagi direhabilitasi. Selain itu, sejumlah kelompok hak asasi manusia prihatin terhadap tidak proporsionalnya jumlah anggota kelompok minoritas yang dipenjarakan. Mereka meragukan apakah ini cuma kebetulan atau akibat diskriminasi ras.

Sebuah laporan Associated Press tahun 1998 menarik perhatian kepada para mantan narapidana Penjara Holmesburg, di Pennsylvania, AS, yang menuntut kompensasi karena telah digunakan sebagai kelinci percobaan dalam eksperimen kimia sewaktu di penjara. Dan, bagaimana dengan diperkenalkannya lagi penggunaan rantai untuk sekelompok narapidana di Amerika Serikat? Amnesty Internasional melaporkan, ”Sekelompok narapidana yang dirantai satu sama lain harus bekerja selama 10-12 jam di bawah terik matahari, dengan istirahat yang sangat singkat untuk minum, dan sejam untuk makan siang. . . . Fasilitas jamban satu-satunya yang tersedia bagi kelompok ini adalah sebuah pispot yang diletakkan di balik tirai penutup seadanya. Para narapidana tetap dirantai satu sama lain sewaktu mereka menggunakan fasilitas ini. Jika tidak ada pispot, narapidana dipaksa untuk berjongkok di tanah di depan banyak orang.” Memang, tidak semua penjara beroperasi seperti itu. Meskipun demikian, perlakukan yang tidak manusiawi membuat para narapidana maupun orang-orang yang membuat mereka dihukum seperti itu menjadi tidak berperikemanusiaan.

Apakah Masyarakat Mendapat Manfaat?

Memang, sebagian besar masyarakat merasa lebih aman kalau para penjahat berbahaya dipenjarakan. Kelompok masyarakat lain menyukai penjara karena alasan-alasan lain. Sewaktu sebuah penjara di kota kecil Cooma di Australia hendak ditutup, orang-orang protes. Mengapa? Karena penjara itu menyediakan lahan pekerjaan bagi masyarakat yang sedang mengalami masalah ekonomi ini.

Belakangan ini, pemerintah telah menjual penjara-penjara mereka ke perusahaan swasta sebagai tindakan penghematan. Sayangnya, semakin banyak penjara dan semakin lama masa hukumannya berarti bisnis semakin untung. Dengan demikian, keadilan dapat bercampur aduk dengan komersialisme.

Akhirnya, pertanyaan yang mendasar masih ada: Apakah penjara dapat merehabilitasi para pelanggar hukum? Meskipun jawabannya sering kali negatif, Anda akan terkejut mengetahui bahwa ada narapidana-narapidana yang telah dibantu untuk berubah. Mari kita lihat caranya.



[Catatan Kaki]
Beberapa nama di artikel ini telah diganti.


Sekilas di Balik Jeruji


TERLALU PADAT: Penjara-penjara di Inggris memiliki masalah kepadatan, dan keadaan ini tidaklah mengejutkan! Negeri itu memiliki jumlah narapidana per kapita tertinggi kedua di seluruh Eropa Barat, dengan rasio 125 narapidana untuk setiap 100.000 penduduk. Di Brasil, penjara terbesar di São Paulo dibangun untuk menampung 500 narapidana. Tetapi, yang ditampung 6.000 narapidana. Di Rusia, sel-sel yang seharusnya berisi 28 narapidana digunakan untuk menampung 90 hingga 110 narapidana. Masalahnya begitu parah sampai-sampai para narapidana harus tidur secara bergantian. Di sebuah negeri di Asia, 13 atau 14 narapidana dijejalkan ke sebuah sel berukuran 3 meter persegi. Sementara itu, di Australia Barat, para pejabat mengatasi masalah kurangnya ruangan dengan menggunakan peti kemas bekas untuk menampung para narapidana.

KEKERASAN: Majalah berita Jerman Der Spiegel melaporkan bahwa di penjara-penjara Jerman, para narapidana yang brutal membunuh dan menyiksa karena ”perang antarkelompok yang memperebutkan bisnis gelap minuman keras, narkoba, seks, dan peminjaman uang”. Ketegangan etnik sering kali memicu kekerasan di penjara. ”Para narapidana berasal dari 72 negara,” kata Der Spiegel. ”Pertengkaran dan konflik yang mengarah ke tindak kekerasan tak dapat dihindari.” Di salah satu penjara di Amerika Selatan, para petugas mengatakan bahwa setiap bulan, rata-rata 12 narapidana tewas. Para narapidana mengatakan bahwa jumlahnya dua kali lipat, lapor Financial Times dari London.

PENGANIAYAAN SEKSUAL: Dalam artikel ”Krisis Pemerkosaan di Dalam Penjara”, The New York Times menyatakan bahwa menurut perkiraan kasar, di Amerika Serikat ”lebih dari 290.000 pria diserang secara seksual dalam penjara setiap tahun”. Laporan ini melanjutkan, ”Pengalaman sadis berupa kekerasan seksual biasanya bukan cuma dialami satu kali, sering kali terjadi setiap hari.” Sebuah organisasi memperkirakan bahwa di penjara-penjara AS, sekitar 60.000 tindakan pemaksaan seksual terjadi setiap hari.

KESEHATAN DAN HIGIENE: Penyebaran penyakit menular lewat hubungan seks di antara para tahanan sudah menjadi rahasia umum. Tuberkulosis yang menjangkiti para narapidana di Rusia dan beberapa negeri Afrika menarik perhatian dunia, demikian pula dengan buruknya perawatan medis, higiene, dan nutrisi di banyak penjara di seputar dunia.


Lihat juga artikel yang berhubungan : "Dapatkah Para Pelanggar Hukum Berubah?"


[Sumber : Appeared in Awake! May 8, 2001, copyright 2006 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania. All right reserved.]

[+/-] Selengkapnya...

Orang-Orang Yang Meninggalkan Bisnis Rokok



[Sumber : Google Image]



Orang-Orang Yang Meninggalkan Bisnis Rokok




Pada tahun 1875 R.J. Reynolds mendirikan sebuah perusahaan tembakau kunyah di Carolina Utara. Pada tahun 1913 mereka membuat rokok mereka yang pertama--merk Camel. Dari situ usaha tersebut maju sampai menjadi nomor dua setelah Philip Moris dalam tiga penjualan dan penghasilan dari rokok di Amerika Serikat. Cicit dari pendirinya adalah Patrick Reynolds, yang sekarang berumur 40-an. Dahulu ia seorang perokok selama 15 tahun, dan ia memberikan kejutan besar kepada dunia tembakau.

Pada tahun 1986 ia muncul dihadapan sub panitia kongres untuk menentang hal merokok! Sejak itu ia secara tetap berkampanye menentang penggunaan tembakau. Apa yang membangkitkan antipatinya terhadap produk yang telah menghasilkan banyak keuntungan bagi keluarganya? Ia ingat, ketika masih anak-anak ia melihat ayahnya, seorang perokok berat, mati perlahan-lahan karena emfisema. Patrick menyatakan: "Yang saya ingat mengenai ayah saya adalah bahwa ia seorang pria yang selalu susah bernafas, dan selalu menghitung waktu yang masih tersisa untuk hidup."

Patrick memutuskan untuk berbuat sesuatu yang positif dengan kehidupan. "saya melihat bahwa saya dapat melakukan sesuatu yang penting dan berbuat sesuatu dengan kehidupan saya." Ia mengatakan bahwa terus mempromosikan "pembunuh-pembunuh yang sudah terbukti bersalah" adalah "amoral."

"Jikalau tangan yang pernah memberi saya makan adalah industri tembakau, maka tangan yang sama telah membunuh jutaan orang dan akan terus membunuh jutaan lagi kecuali orang-orang sadar akan bahaya dari merokok."--The New York Times, 25 Oktober 1986.

David Goerlitz adalah model yang terkenal sebagai pria Winston pada iklan rokok Winston. Ia berhenti mengiklankan rokok dan kini menjadi juru bicara bagi Lembaga Kanker Amerika. Apa yang membuat ia berubah? Dalam sebuah wawancara TV, pada tanggal 29 Desember 1988, ia berkata: "Saya mengunjungi abang saya di ruang bagian kanker di sebuah rumah sakit di Boston. Hal tersebut membuat saya berhadapan langsung dengan akibat dari pekerjaan saya--pasien-pasien kanker yang sedang menderita karena merokok. Saya melihat akibat yang sangat merusak pada korban-korban rokok dan korban dari korban-korban tersebut, yaitu keluarga mereka. Saya melihat pria-pria dalam usia 40-an tanpa rambut, slang-slang dalam tenggorokan dan perut mereka. Saya merasa bersalah dan memutuskan untuk berhenti mengiklankan tembakau.




[Sumber : Sedarlah! "Dijual Maut"- g IN No. 31, h. 15]



[+/-] Selengkapnya...

Kesepian Picu Hipertensi Dan Pikun

Kesepian Picu Hipertensi dan Pikun



Penulis : Ikarowina Tarigan

Kesepian Picu Hipertensi dan Pikun

guardian.co.uk

STUDI yang dilakukan tim peneliti dari Chicago University menemukan bahwa orang-orang yang kesepian cenderung menderita tekanan darah tinggi di usia selanjutnya. Peneliti menemukan, perasaan kesepian kronis terus memompa tekanan darah seiring waktu, sehingga akhirnya menyebabkan hipertensi.

Orang-orang yang hidup sendiri, terang peneliti Dr Louise Hawkley, bukan berarti pasti kesepian. Banyak orang yang terlihat sibuk dan memiliki jaringan sosial yang baik tapi merasa kesepian."Hal ini membuat mereka berisiko," terang Hawkley, seperti dikutip situs dailymail.co.uk, edisi Kamis (18/3).

Kesepian, terang Hawkley, ditandai dengan dorongan untuk berhubungan dengan orang lain tapi juga takut akan penilaian negatif, penolakan dan kekecewaan.

Menurut kami, terang Hawkley lagi, ancaman terhadap perasaan aman seseorang dalam berhubungan dengan orang lain, adalah komponen beracun dari kesepian. Dan kewaspadaan berlebih terhadap ancaman sosial, terang dia, memicu perubahan fungsi fisiologis, termasuk peningkatan tekanan darah.

Peneltian sebelumnya, lanjut Hawkley, juga telah mengindikasikan bahwa individu yang merasa sendiri berisiko dua kali lipat mengalami kepikunan dibandingkan mereka yang paling sedikit merasa kesepian.

Detail studi

Selama lima tahun masa studi, Hawkley menemukan hubungan yang jelas antara perasaan kesepian yang dilaporkan di awal studi dan peningkatan tekanan darah selama waktu tersebut.

Peningkatan tekanan darah terkait kesepian, terang Hawkley, belum bisa diamati hingga dua tahun studi. Tapi, tekanan darah terus meningkat hingga empat tahun kemudian."Orang-orang dengan tingkat kesepian sedang sekali pun turut terkena imbasnya," terang Hawkley.

Partisipan yang merasa paling kesepian mengalami peningkatan tekanan darah 14,4 mm lebih banyak dibandingkan partisipan yang merasa puas dengan kehidupan sosial mereka. (IK/OL-08)



[Sumber : www.mediaindonesia.com]

[+/-] Selengkapnya...

Lessons of Friendship . . .

A PassionUp greeting by Bobette Bryan Lessons of Friendship.ecard



I learned that God sends friends when
we need them the most and every friend
has a special purpose in our lives.

I learned that we often find
new friends in unexpected places.


I learned that despite the distance
between us, a real friendship grows
across the miles.

I learned that though we sometimes
expect someone to kick us down,
a true friend helps us stand back up.


I learned that we should not wait to
express our appreciation for our friends--
if we do, it will be too late.

I learned that we should be open to a
friend's view as two people can look at the
same thing and see something different.


I learned that we should not judge
our friends but respect their
way of life even if we disagree with it.

I learned that we should not only
take the time to talk to our friends,
but we should also listen and try
to understand.
If we can't understand,
we should accept.


I learned that our friends should
always take something good away with
them each time they cross our path.

I learned that friends sometimes
hurt us unintentionally, but we
should forget and forgive.


I learned that friends change
over time and that such change should
be welcomed as it's necessary for growth.

I learned that friends sometimes need
time and space, and we should
be thoughtful and understanding
of their needs.


I learned that you should treat a friend
kindly today, for the people we love the most
are often taken away from us too soon.

I learned that friendship is a candle
that lights our way, and though
it flickers against the
winds of time, distance, and change,
its beauty endures
and shines forever in our hearts.


Bobette Bryan ecard greeting Lessons of Friendship.








"Lessons of Friendship," written and designed by Bobette Bryan, 2010

[+/-] Selengkapnya...

Make The Most Of Life

Make the Most of Life...


Heartfelt Inspirational Ecard, Make the Most of Life, a PassionUp greeting by Bobette Bryan



It's not enough to want more for yourself,
You need to come up with a plan
to make your life better.

It's not enough to want peace.
You need to look for ways
to plant the dream in other hearts.

It's not enough to blame someone else.
You need to ask how you
can help make it better.

It's not enough to say, "Someone should do it!"
You need to remember that you're somebody,
and you can do it.

It's not enough to preach about right and wrong.
You need to live by example
and let others learn by it.

It's not enough to say, "I tried!"
You need to try again. And if that
doesn't work, try and try again.

It's not enough to say, "I love you."
You need to show how much you care.

It's not enough to want to be loved.
You need to love yourself first,
and then love will come to you.

It's not enough to want change.
You need to take action for
mountains don't move on their own.

It's not enough to wake up in the morning.
You need to be thankful for another chance
to try this thing called "life."

It's not enough to just earn a living.
You need to build a fulfilling life and
take the time to enjoy its blessings.

It's not enough to dream.
You need to chase it to the stars and beyond
and remain determined to capture it.

It's not enough to begin.
You need to stick to your goal and commit
yourself to it before you find success.

It's not enough to pray.
You need to mean it in your heart and soul.

It's not enough to walk alone.
You need to share the journey with
others or life won't be complete.

It's not enough to read this wisdom.
You need to keep it in your heart and carry it
out into the world with you, and, hopefully, share it.








"Make the Most of Life," written and designed by Bobette Bryan, 2010

[+/-] Selengkapnya...

Make The Most Of Life

Make the Most of Life...


Heartfelt Inspirational Ecard, Make the Most of Life, a PassionUp greeting by Bobette Bryan



It's not enough to want more for yourself,
You need to come up with a plan
to make your life better.

It's not enough to want peace.
You need to look for ways
to plant the dream in other hearts.

It's not enough to blame someone else.
You need to ask how you
can help make it better.

It's not enough to say, "Someone should do it!"
You need to remember that you're somebody,
and you can do it.

It's not enough to preach about right and wrong.
You need to live by example
and let others learn by it.

It's not enough to say, "I tried!"
You need to try again. And if that
doesn't work, try and try again.

It's not enough to say, "I love you."
You need to show how much you care.

It's not enough to want to be loved.
You need to love yourself first,
and then love will come to you.

It's not enough to want change.
You need to take action for
mountains don't move on their own.

It's not enough to wake up in the morning.
You need to be thankful for another chance
to try this thing called "life."

It's not enough to just earn a living.
You need to build a fulfilling life and
take the time to enjoy its blessings.

It's not enough to dream.
You need to chase it to the stars and beyond
and remain determined to capture it.

It's not enough to begin.
You need to stick to your goal and commit
yourself to it before you find success.

It's not enough to pray.
You need to mean it in your heart and soul.

It's not enough to walk alone.
You need to share the journey with
others or life won't be complete.

It's not enough to read this wisdom.
You need to keep it in your heart and carry it
out into the world with you, and, hopefully, share it.








"Make the Most of Life," written and designed by Bobette Bryan, 2010

[+/-] Selengkapnya...

Umur Panjang - Apakah Rahasianya di Okinawa?

An Okinawan centenarian

Umur Panjang - Apakah Rahasianya di Okinawa?



Pada tahun 2006, Kepulauan Okinawa di Jepang yang berpenduduk 1,3 juta diperkirakan memiliki hampir 740 centenarian (orang yang berusia 100 tahun atau lebih)—90 persen di antaranya adalah wanita. Jumlah ini menunjukkan bahwa ada sekitar 50 centenarian untuk setiap 100.000 penduduk, menurut Penelitian Centenarian Okinawa yang diketuai oleh Dr. Makoto Suzuki. Di kebanyakan negara maju, rasionya diperkirakan antara 10 sampai 20 per 100.000 orang.

Penelitian yang masih berlangsung itu, yang dianggap sebagai ”penelitian centenarian yang tidak pernah terputus dan paling lama di dunia”, mendapati bahwa ”cukup banyak centenarian yang kondisi kesehatannya sangat baik”. Untuk mengetahui alasannya, Suzuki dan timnya menyelidiki gaya hidup serta genetika lebih dari 900 centenarian, serta banyak orang Okinawa lainnya yang berusia 70-an atau lebih tua. Para peneliti itu mendapati bahwa para lansia tersebut kebanyakan bertubuh ramping serta bugar, pembuluh darah mereka bersih, dan sangat sedikit yang mengidap penyakit kanker dan jantung. Dan, di antara orang-orang yang usianya mendekati 100 tahun, lebih sedikit yang menderita demensia dibandingkan dengan orang-orang sebayanya di negara-negara maju lainnya. Apa rahasianya?

Satu faktor yang utama ialah pembawaan genetis. Tetapi, ada faktor-faktor lain juga—penghindaran tembakau, penggunaan alkohol yang bersahaja, dan pola makan yang sehat. Orang Okinawa cenderung mengkonsumsi makanan yang rendah kalori dan kaya dengan sayur serta buah, serat alami, dan lemak yang baik (omega-3, lemak tak jenuh tunggal). Dan, mereka memiliki kebiasaan makan hanya sampai 80 persen kenyang. ”Anda harus berhenti makan pada saat pertama Anda merasa kenyang,” kata Dr. Bradley Willcox, seorang rekan peneliti di proyek tersebut. ”Ada tenggang waktu sekitar 20 menit sebelum perut menyampaikan pesan itu ke otak.”

Orang Okinawa tetap aktif secara fisik dengan berkebun, berjalan setiap hari, melakukan tarian tradisional, atau melakukan kegiatan lainnya. Tes kepribadian menyingkapkan bahwa para centenarian itu bersikap optimis dan mudah menyesuaikan diri. Mereka menangani stres dengan baik, dan kaum wanitanya terutama mempertunjukkan ”integrasi sosial yang kuat”.

”Tidak ada pil ajaib” untuk umur panjang, kata Willcox. Sebagaimana disingkapkan penelitian tersebut, umur panjang bergantung pada gen, pola makan, olah raga, kebiasaan yang baik, ”dan cara yang sehat untuk mengatasi stres”.


Top


Sumber :

Watchtower Library 2008 [Bahasa Indonesia]

Appeared in Awake! November 2008

Copyright © 2009 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania. All rights reserved.

[+/-] Selengkapnya...

50 Ways To Cope With Stress

50 Ways To Cope With Stress


[+/-] Selengkapnya...

Enam Kunci Kesuksesan Pribadi


Enam Kunci Kesuksesan Pribadi



KESUKSESAN sejati adalah keberhasilan mencapai jalan hidup yang terbaik karena menerapkan standar-standar Pencipta Sejati yang sesuai dengan maksud-tujuan-Nya bagi kita. Orang yang menempuh kehidupan demikian, kata [sebuah Referensi] akan ”menjadi seperti sebuah pohon yang ditanam dekat aliran-aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya dan yang dedaunannya tidak menjadi layu, dan segala sesuatu yang ia lakukan akan berhasil”.

Ya, meskipun kita tidak sempurna dan membuat kesalahan, kehidupan kita secara keseluruhan bisa sangat sukses! Apakah prospek itu menarik bagi Anda? Kalau begitu, enam prinsip [Dari sebuah Referensi] berikut ini dapat membantu Anda meraih tujuan itu, dengan demikian memberikan bukti jelas bahwa ajaran yang terdapat dalam [Referensi]benar-benar adalah hikmat dari Pencipta Sejati.—

1 Miliki Pandangan yang Benar Tentang Uang

Money

”Cinta akan uang adalah akar segala macam perkara yang mencelakakan, dan dengan memupuk cinta itu beberapa orang telah . . . menikam diri mereka dengan banyak kesakitan.” [Dari sebuah Referensi] Perhatikan bahwa masalahnya bukan uang itu sendiri—yang kita semua perlukan untuk menafkahi diri dan keluarga kita—melainkan cinta akan uang. Kenyataannya, cinta itulah yang menjadikan uang sebagai majikan, atau allah.

Seperti yang kita lihat dalam artikel pertama, orang yang dengan semangat mengejar kekayaan sebagai kunci kesuksesan sebenarnya sedang mengejar bayang-bayang. Kekayaan tidak hanya mengundang kekecewaan tetapi banyak kepedihan. Misalnya, sementara dengan gigih mengejar kekayaan, orang sering mengorbankan hubungan dengan keluarga dan teman. Ada juga yang kurang tidur—kalau bukan karena bekerja, karena khawatir atau cemas. ”Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak; tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur,” kata sebuah Referensi

Uang bukan hanya majikan yang kejam, melainkan juga yang licik. Tokoh Terbesar Sepanjang Zaman berbicara tentang ”tipu daya kekayaan”. Dengan kata lain, kekayaan menjanjikan kebahagiaan, tetapi tidak memberikannya. Kekayaan hanya menciptakan keinginan yang tak pernah terpuaskan. ”Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang,” kata sebuah Referensi

Singkatnya, cinta akan uang merusak diri dan pada akhirnya mengarah kepada kekecewaan, frustrasi, atau kejahatan. [Sebuah Referensi] Yang lebih berkaitan erat dengan kebahagiaan dan kesuksesan adalah sifat murah hati, sikap suka mengampuni, kebersihan moral, kasih, dan kerohanian.

2 Pupuk Kemurahan Hati

A young man bringing an older woman groceries

”Lebih bahagia memberi daripada menerima.” [Sebuah Referensi] Dengan sesekali memberi kita bisa memperoleh saat-saat yang membahagiakan, namun dengan memiliki sifat murah hati kita bisa menjadi orang yang berbahagia. Tentu saja, kemurahan hati bisa dinyatakan dengan banyak cara. Salah satu cara terbaik, dan sering kali paling dihargai, adalah dengan memberi diri.

Setelah mengkaji kembali beberapa penelitian tentang altruisme, kebahagiaan, dan kesehatan, peneliti Stephen G. Post menyimpulkan bahwa sikap tidak mementingkan diri (altruistis) dan kerelaan membantu orang lain dikaitkan dengan umur yang lebih panjang, kesejahteraan yang lebih baik, serta kesehatan jasmani dan mental yang lebih baik, termasuk berkurangnya depresi.

Selain itu, orang-orang yang memberi dengan murah hati menurut kesanggupan mereka tidak pernah dirugikan. Kata sebuah Referensi, ”Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.” (TB) Selaras dengan kata-kata itu, orang yang benar-benar murah hati—yang memberi tanpa pamrih—dihargai dan dikasihi, khususnya oleh Pencipta Agung.—

3 Ampuni Dengan Lapang Hati

Two friends hugging

”Teruslah . . . ampuni satu sama lain dengan lapang hati jika ada yang mempunyai alasan untuk mengeluh sehubungan dengan orang lain. Sama seperti Pencipta Agung dengan lapang hati mengampuni kamu, lakukan itu juga.” [Sebuah Referensi] Sekarang ini, orang tidak suka mengampuni, sebaliknya mereka lebih suka membalas daripada memperlihatkan belas kasihan. Akibatnya? Penghinaan memicu penghinaan, dan kekerasan menghasilkan kekerasan.

Bukan itu saja kerugiannya. ”Dalam sebuah penelitian atas 4.600 orang berusia 18 hingga 30 tahun,” kata laporan The Gazette dari Montreal, Kanada, para peneliti ”mendapati [bahwa] semakin tidak ramah, menyebalkan dan kasar watak [seseorang]”, semakin tidak sehat pula paru-parunya. Beberapa dampak buruknya bahkan lebih parah daripada dampak buruk karena merokok! Memang, sikap suka mengampuni tidak hanya melancarkan pergaulan, tetapi juga merupakan obat yang mujarab untuk kesehatan!

Bagaimana Anda bisa menjadi lebih suka mengampuni? Mulailah dengan memeriksa diri secara jujur. Tidakkah Anda kadang-kadang membuat orang lain kesal? Dan, tidakkah Anda senang bahwa mereka mengampuni Anda? Maka, tidakkah sebaiknya kita bermurah hati dan berbelaskasihan kepada orang lain? [Dari Sebuah Referensi] Sehubungan dengan hal ini, penting juga untuk mengembangkan pengendalian diri. ”Hitung sampai sepuluh” atau dengan satu atau lain cara, ambil waktu untuk meredakan diri. Dan, anggaplah pengendalian diri sebagai kekuatan. ”Ia yang lambat marah lebih baik daripada pria perkasa,” kata [sebuah Referensi]. ”Lebih baik daripada pria perkasa”—hal itu menyiratkan kesuksesan, bukan?


Beberapa Petunjuk Tambahan Untuk Sukses

▪ Miliki rasa takut yang patut akan Allah. ”Takut akan [Pencipta] adalah permulaan hikmat.”
▪ Pilih teman dengan bijaksana. ”Ia yang berjalan dengan orang-orang berhikmat akan menjadi berhikmat, tetapi ia yang berurusan dengan orang-orang bebal akan mengalami kemalangan.”
▪ Hindari kebiasaan ekstrem. ”Pemabuk dan orang gelojoh akan jatuh miskin.”
▪ Jangan membalas dendam. ”Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan kepada siapa pun.”
▪ Bekerja keras. ”Jika seseorang tidak mau bekerja, biarlah ia tidak makan.”
▪ Terapkan Aturan Emas. ”Segala sesuatu yang kamu ingin orang lakukan kepadamu, demikian juga harus kamu lakukan kepada mereka.”
▪ Kendalikan lidah. ”Ia yang mengasihi kehidupan dan ingin melihat hari-hari baik, biarlah ia menahan lidahnya terhadap apa yang jahat.” (Dari Sebuah Referensi]

4 Patuhi Standar-Standar Pencipta Sejati

The Bible

”Perintah [Pencipta Agung] itu bersih, membuat mata bersinar.” [Dari Sebuah Referensi] Singkatnya, standar-standar Pencipta Sejati baik bagi kita—secara jasmani, mental, dan emosi. Antara lain, standar-standar itu melindungi kita dari praktek-praktek berbahaya seperti penyalahgunaan obat bius, pemabukan, perbuatan seksual yang tercela, dan menonton pornografi. Kerugian akibat praktek-praktek tersebut bisa muncul dalam bentuk kejahatan, kemiskinan, rasa tidak percaya, keluarga berantakan, problem mental dan emosi, penyakit, dan bahkan kematian dini.

Sisi positifnya, orang yang mematuhi standar-standar Pencipta Agung menghasilkan hubungan yang sehat, aman, dan juga membangun harga diri serta kedamaian batiniah. {Dalam sebuah Referensi disebutkan] , ”Pribadi yang mengajarkan hal-hal yang bermanfaat bagimu, Pribadi yang membuat engkau melangkah di jalan yang harus kautempuh.” Dan, Ia menambahkan, ”Oh, seandainya saja engkau mau memperhatikan perintah-perintahku! Maka damaimu akan menjadi seperti sungai, dan keadilbenaranmu seperti gelombang-gelombang laut”. Ya, Pencipta kita menginginkan yang terbaik bagi kita. Ia ingin agar kita ”melangkah di jalan” kesuksesan sejati.

5 Perlihatkan Kasih yang Tidak Mementingkan Diri

A bouquet of flowers


”Kasih membangun.” [Dari sebuah Referensi] Dapatkah Anda membayangkan kehidupan tanpa kasih sayang? Betapa hampa dan tidak bahagianya keadaan itu! ”Jika aku . . . tidak mempunyai kasih [bagi orang lain], aku bukan apa-apa. . . . aku tidak mendapat keuntungan apa-apa,” tulis dari sebuah Referensi.

Bentuk kasih yang disebutkan di sini bukanlah cinta asmara, yang, tentu, ada tempatnya. Sebaliknya, itu adalah kasih yang lebih kaya, lebih bertahan lama dan didasarkan atas prinsip-prinsip ilahi. [dari sebuah Referensi] Selain itu, sifat tersebut tidak pasif, dalam arti hanya menerima, tetapi juga aktif, dalam arti memperlihatkannya melalui tindakan. Paulus selanjutnya berkata bahwa kasih ini juga sabar serta baik hati, tidak cemburu, suka membual, dan tidak angkuh. Kasih mengupayakan kesejahteraan orang lain tanpa mementingkan diri, dan tidak mudah tersinggung tetapi suka mengampuni. Kasih seperti itu membangun. Selain itu, kita dibantu untuk sukses dalam hubungan kita dengan orang lain, khususnya dengan anggota keluarga.—[dari sebuah Referensi]

Bagi orang tua, kasih berarti memperlihatkan kasih sayang yang hangat kepada anak-anak mereka dan menetapkan batasan-batasan yang jelas dan berdasarkan Alkitab sehubungan dengan moral dan perilaku. Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan demikian menikmati perasaan aman dan kestabilan keluarga, dan mereka benar-benar merasa dikasihi dan dihargai.—[dari sebuah Referensi]

Jack, seorang pria muda di Amerika Serikat, dibesarkan dalam keluarga yang menerapkan prinsip-prinsip kebenaran universal. Setelah meninggalkan rumah, Jack menulis surat kepada orang tuanya. Antara lain ia mengatakan, ”Saya selalu berupaya mengikuti perintah [Referensi], ’Hormatilah bapakmu dan ibumu . . . dan baik keadaanmu.’ Keadaan saya memang baik. Dan sekarang, saya lebih menyadarinya lagi bahwa saya bisa seperti ini karena Papa dan Mama membesarkan saya dengan sungguh-sungguh dan penuh kasih sayang. Terima kasih atas semua kerja keras dan dukungan Papa dan Mama selama ini.” Jika Anda mempunyai anak, bagaimana perasaan Anda menerima surat seperti itu? Tidakkah Anda akan bahagia?

Kasih yang berprinsip juga ”bersukacita karena kebenaran”—kebenaran rohani yang terdapat dalam sebuah Referensi. Sebagai ilustrasi: Sepasang suami istri yang mengalami problem perkawinan memutuskan untuk membaca bersama kata-kata dalam sebuah Referensi ”Apa yang telah [Pencipta Agung] letakkan di bawah satu kuk [dalam perkawinan] hendaknya tidak dipisahkan manusia.” Nah, mereka harus memeriksa hati. Apakah mereka benar-benar ’bersukacita karena kebenaran Sejati’? Apakah mereka akan memandang dan menjalani perkawinan sebagai sesuatu yang suci, sebagaimana Pencipta Agung memandangnya? Bersediakah mereka untuk berupaya menyelesaikan problem mereka dengan semangat kasih? Jika demikian, mereka bisa menyukseskan perkawinan mereka, dan mereka akan bersukacita melihat hasilnya.


KASIH ADALAH OBAT YANG MANJUR

Dokter dan pengarang Dean Ornish menulis, ”Kasih dan keakraban merupakan faktor penentu yang membuat kita sakit dan sehat, yang menyebabkan kesedihan dan kebahagiaan, yang membuat kita menderita dan sembuh. Seandainya sebuah obat baru mempunyai pengaruh yang sama, hampir semua dokter di negeri ini akan merekomendasikannya kepada pasien mereka. Tidak meresepkan obat itu sama saja dengan malpraktek.”


6 Sadarlah akan Kebutuhan Rohani Anda


A woman reading the Bible

”Berbahagialah mereka yang sadar akan kebutuhan rohani mereka.” [Dari Sebuah Referensi] Tidak seperti binatang, manusia memiliki kesanggupan untuk menghargai hal-hal rohani. Itulah sebabnya kita mengajukan pertanyaan seperti: Apa makna kehidupan? Apakah ada Pencipta? Bagaimana keadaan kita setelah kita mati? Apa masa depan kita?

Di seluruh dunia, jutaan orang berhati jujur mendapati bahwa [Sebuah Referensi] menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pertanyaan yang terakhir, misalnya, berkaitan dengan maksud-tujuan Pencipta Agung bagi umat manusia. Apa maksud-tujuan itu? Yaitu, agar bumi menjadi firdaus yang dihuni selamanya oleh orang-orang yang mengasihi Pencipta Sejati serta standar-standar-Nya. Kata sebuah Referensi, ”Orang-orang adil-benar akan memiliki bumi, dan mereka akan mendiaminya selama-lamanya.”

Jelaslah, Pencipta kita ingin agar kita menikmati lebih dari sekadar kesuksesan sementara selama 70 atau 80 tahun. Ia ingin kita sukses untuk selama-lamanya! Maka, kinilah saatnya bagi Anda untuk belajar tentang Pencipta kita. Tokoh Terbesar mengatakan, ”Ini berarti kehidupan abadi, bahwa mereka terus memperoleh pengetahuan mengenai dirimu, satu-satunya [Pencipta Agung] yang benar, dan mengenai pribadi yang engkau utus, ”Seraya Anda memperoleh pengetahuan tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan, Anda akan merasakan sendiri bahwa ”berkat [Pencipta Sejati] . . . itulah yang membuat kaya, dan ia tidak menambahkan kepedihan hati bersamanya”.—[Dari Sebuah Referensi]

[Catatan Kaki]
Dalam sebuah Referensi tersebut ”kasih” diterjemahkan dari kata Yunani a·ga′pe. A·ga′pe adalah kasih bermoral yang didasarkan atas pilihan untuk mengasihi orang lain atas dasar prinsip, kewajiban, dan kelayakan. Namun, a·ga′pe bukanlah tanpa perasaan melainkan disertai kehangatan dan kesungguhan hati.

Dari Putus Asa Menjadi Sukses

Milanko when he was a soldier


Ketika perang mulai berkecamuk di kampung halamannya, Milanko, yang tinggal di daerah Balkan, bergabung dengan angkatan bersenjata. Karena tindakan-tindakannya yang berani, ia dijuluki Rambo, menurut nama jagoan yang beringas dalam film. Namun belakangan, Milanko kecewa dengan kemiliteran karena korupsi dan kemunafikan yang ia saksikan. ”Hal itu,” tulisnya, ”mengarah kepada banyak kebejatan—alkohol, rokok, narkoba, judi, dan promiskuitas. Saya terpuruk dalam kegelapan hidup dan tidak bisa melihat titik terang.”

Milanko today


Pada saat kritis itu dalam kehidupannya, Milanko mulai membaca [sebuah Buku Petunjuk/Referensi] Belakangan, sewaktu mengunjungi seorang kerabat, ia melihat sebuah majalah MP, yang diterbitkan oleh Watchtower Ia menyukai apa yang dibacanya dan segera mulai belajar. Kebenaran tersebut membawanya ke jalan menuju kebahagiaan dan kesuksesan sejati. ”Hal itu memberi saya kekuatan baru,” katanya. ”Saya meninggalkan semua kebiasaan buruk saya, menjadi orang yang baru. Orang-orang yang mengenal saya sebelumnya tidak lagi memanggil saya Rambo, tetapi Bunny (artinya, kelinci kecil)—panggilan semasa kanak-kanak—karena sifat saya sekarang yang lembut.”


Catatan :

Artikel telah diedit, tulisan di atas berdasarkan sudat pandang penerbitnya, namun isinya tetap sesuatu yang universal dan bermanfaat!


Sumber :
Appeared in Awake! November 2008
Copyright © 2010 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania. All rights reserved.



[+/-] Selengkapnya...

Inilah Hasil Survei Soal Facebook

Inilah Hasil Survei Soal Facebook

wordpress


JAKARTA--Sebuah survei di Inggris melansir bahwa sekitar 60 persen pengguna Facebook yang memiliki jumlah teman online lebih dari 170 orang ternyata mengaku hanya secara rutin bertemu langsung dengan 10 orang teman onlinenya. Perbedaan antara pertemanan dunia maya dan dunia nyata terlihat sangat jelas pada kelompok usia 51 sampai 55 tahun. Dengan jumlah teman rata-rata di akun Facebooknya sekitar 31 orang, sebesar 78 persen mengatakan mereka bertatap muka kurang dari lima kali setiap bulannya.

Survei yang dilakukan Railcard terhadap seribu orang dewasa di Inggris ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana pertemanan yang sesungguhnya pada era jejaring sosial: kesimpulannya tidak baik. Kebanyakan dari mereka (sekitar 41 persen) beralasan waktu yang sempit menjadi faktor utama untuk tidak saling bertemu. Namun lebih dari seperempat orang yang disurvei (27 persen) mengatakan jarak merupakan penghalang untuk membangun pertemanan.

Temuan yang tidak mengejutkan dari survei itu adalah untuk kelompok usia 16 hingga 18 tahun. Kelompok usia ini merupakan yang paling banyak bersosialisasi melalui Facebook. Mereka bertemu langsung dengan 12 orang dari teman onlinenya satu kali sebulan.

Presenter Channel 4 dan pakar pertemanan Anna Richardson mengatakan, "Pertemanan di Facebook adalah sebuah pengganti buruk dari kegiatan tatap muka karena anda kehilangan keterlibatan pribadi dan hubungan sesungguhnya yang dibutuhkan untuk membangun sebuah pertemanan kuat," ujar dia. Menurut dia, sulit meluangkan waktu untuk teman ketika kesibukan menyulap kehidupan. "Tetapi tanpa usaha, ada bahaya bahwa persahabatan berharga menjadi hilang dalam era digital," katanya. (www.republika.co.id)



Redaksi - Reporter
Red:
irf
Sumber Berita:
ant

[+/-] Selengkapnya...

Tidak Bahagia, Miliuner Austria Jual Semua Hartanya!!!

Tidak Bahagia, Miliuner Austria Jual Semua Hartanya !!!







http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/02/12/1043045p.jpg



Seorang miliuner Austria, Karl Rabeder, memberikan setiap sen kekayaanya senilai total 3 juta poundsterling atau setara Rp 50 miliar setelah menyadari kekayaannya tidak membuat dirinya bahagia.

Rabeder (47), pengusaha sukses dari Telfs, kini tengah menjual vila mewah dengan danaunya serta pemandangan pengunungan Alps yang spektakuler senilai Rp 21 miliar. Dia juga menjual rumah pertanian dari batu serta belasan hektar lahan di sekitaranya di Provence dengan nilai Rp 10 miliar, serta enam koleksi pesawat terbang layang senilai Rp 6 miliar dan sebuah mobil audi mewah senilai Rp 700 juta. Selain itu, dia telah menjual perabot interior dan aksesori bisnis, dari vas hingga bunga artifisial.

"Rencana saya adalah untuk tidak menyisakan apa pun. Tidak memiliki apa pun," katanya kepada The Daily Telegraph pada awal pekan ini. "Uang itu kontraproduktif, uang menghalangi datangnya kebahagiaan."



http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2010/02/08/article-1249414-08339C65000005DC-916_233x363.jpg



Ia akan keluar dari rumah mewahnya itu, lalu menyepi ke sebuah pondok kayu kecil yang ciamik di pengunungan tersebut atau ke sebuah rumah sederhana di Innsbruck. Semua hasil penjualan hartanya akan menjadi modal untuk lembaga amal yang dia dirikan di Amerika Tengah dan Latin, tetapi ia tidak akan mengambil gaji dari situ.

"Lama saya meyakini bahwa dengan banyak kekayaan dan kemewahan berarti secara otomatis akan lebih membahagiakan," katanya. "Saya berasal dari kerluarga yang sangat miskin, yang aturanya adalah bekerja lebih keras untuk mencapai hal-hal material yang lebih banyak dan saya melakukan hal itu bertahun-tahun," kata Rabeder.

Namun, dia kemudian merasakan sesuatu yang lain, perasaan yang justru bertentangan dengan keyakinan awalnya. "Semakin sering saya mendengar kata-kata, 'Hentikan apa yang Anda lakukan sekarang, segala kemewahan dan konsumerisme ini, dan mulailah hidupmu yang sesungguhnya,'" katanya. "Saya merasa, saya bekerja laksana budak untuk hal-hal yang tidak saya ingin atau butuh. Saya kira bahwa ada banyak orang lain yang melakukan hal yang sama."


http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2010/02/08/article-1249414-08339653000005DC-330_468x309.jpg


Bagaimanapun, selama bertahun-tahun dia tidak cukup berani untuk menghentikan semua hal yang memerangkap kenyamanan eksistensinya. Akhirnya titik balik itu terjadi saat dia berada dalam liburan selama tiga minggu bersama istrinya di Kepulauan Hawaii.

"Itu merupakan guncangan terbesar dalam hidup saya ketika saya menyadari betapa mengerikan dan tanpa perasaannya kehidupan bintang lima itu," katanya. "Dalam tiga minggu tersebut, kami menghabiskan semua uang yang mungkin dapat Anda belanjakan. Namun, dalam keseluruhan waktu itu, kami merasa bahwa kami tidak menemukan seorang pribadi yang nyata, semuanya aktor. Para staf memainkan peran untuk ramah dan para tamu memainkan peran sebagai orang penting dan tidak seorang pun nyata."

Dia memiliki perasaan bersalah yang sama ketika melakukan perjalanan ke Amerika Selatan dan Afrika. "Saya semakin mendapatkan sensasi bahwa ada hubungan antara kekayaan kami dan kemiskinan mereka," katanya. Tiba-tiba dia menyadari, "Jika saya tidak melakukan ini sekarang, saya tidak pernah melakukan hal ini dalam sisa hidup saya."

Maka, Rabeder memutuskan untuk mengundi rumahnya di Alpine. Ia menjual sebanyak 21.999 tiket lotere, masing-masing hanya seharga 87 poundsterling. Rumah di Provence di Desa Cruis dijual oleh agen properti lokal.

Semua uang akan disalurkan untuk usaha kredit mikro yang menawarkan pinjaman skala kecil kepada warga Amerika Latin dan membangun bantuan strategis untuk pemberdayaan diri orang-orang di El Salvador, Honduras, Bolivia, Peru, Argentina, dan Cile.

Sejak menjual hartanya, Rabeder mengatakan bahwa dirinya merasa bebas, tidak lagi merasa terbebani. Namun, dia mengatakan, ia tidak akan menghakimi orang kaya yang memilih untuk terus menumpuk kekayaan. "Saya tidak punya hak untuk memberikan nasihat bagi orang lain. Saya hanya mendengar suara hati saya." [www.lintasberita.com]


[Read more: http://unic77.blogspot.com]

[+/-] Selengkapnya...

Parman, Pengusaha Yang Kini Jadi Gelandangan

Parman, Pengusaha yang Kini Jadi Gelandangan....



Minggu, 24 Januari 2010 | 12:30 WIB
LEO SUNU

JAKARTA, KOMPAS.com - Siang ini matahari bersinar begitu terik. Seorang pria paruh baya, berperawakan kurus dan bermata sipit duduk berteduh di bawah sebuah pohon rindang di sekitar Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan. Sesekali kepalanya terangguk-angguk. Bukan karena memberi isyarat mengiyakan. Malahan ia tampak kesakitan dengan anggukan kepalanya itu.

"Saya sakit syaraf leher mas. Urat syarafnya tertarik," kata lelaki paruh baya bernama Suparman (58) ini dalam perbincangan dengan Kompas.com ketika tak sengaja bertemu di depan gerbang Mabes Polri, Minggu (24/1/2010).

Parman, demikian pria ini biasa dipanggil adalah seorang galandangan yang saban hari menggelandang di seputaran kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Sosok Parman memang agak "lain" dengan tampilan gelandangan jalanan lainnya. Meski tubuhnya kurus kering seperti hanya tulang berbalut kulit, penampilannya masih lebih bersih dibanding gelandangan manapun di Jakarta.

Tutur katanya pun menandakan ia pernah mengeyam pendidikan tinggi. Pun guratan-guratan tua di wajahnya masih menyisakan paras tampan dan sisa-sisa kejayaan di masa lalu. "Sudah enam bulan ini saya menggelandang di Jakarta. Tidak punya tempat tinggal," kata Parman sambil tetap "mengangguk-angguk".

Sakit syaraf itu tampaknya cukup banyak menyedot energi Parman. Wajahnya terlihat letih manakala kepalanya selalu mengangguk-angguk sekenanya tanpa bisa dikendalikan oleh lehernya. Siapapun yang menyaksikan Parman tentu miris dengan sosok pria yang ternyata bekas pengusaha garmen sukses ini.

Dampak Krisis

Parman merupakan salah satu dari sekian banyak korban yang jatuh akibat krisis moneter yang mendera Indonesia pada 1998 lalu. Usaha garmen miliknya ambruk lantaran merugi dihujam krisis keuangan. Inilah awal yang menggiring Parman pada situasi seperti sekarang ini. Kondisi ekonomi yang tak menentu saat itu membuatnya kelimpungan dan tak mampu bertahan. Usaha garmen yang dirintisnya sedari kecil hingga besar itu jatuh dalam sekejap. "Dulu saya bisa dapat keuntungan hingga Rp 400 juta sebelum krisis. Sekarang sudah habis semua," kata Parman.

Frustrasi akibat kebangkrutan bisnisnya rupanya menohoknya begitu dalam. Entah bagaimana awalnya, sakit syaraf pun mendera fisik Parman. Pria yang pernah mengeyam pendidikan di Universitas Parahyangan ini mesti keluar masuk rumah sakit karena penyakit syaraf leher itu. Padahal, kata Parman, keuangannya saat itu pun sudah sangat minim karena bangkrut. "Semua uang habis untuk biaya pengobatan. Puluhan kali keluar masuk rumah sakit tapi enggak ada yang bisa mengobati," ucapnya.

Sudah jatuh tertimpa tangga

Nasib buruk yang menimpa Parman rupanya tak berhenti sampai di situ saja. Di tengah kondisi sakitnya, tak dinyana sang istri tiba-tiba menggugat cerai Parman. "Sekitar enam bulan yang lalu saya diceraikan. Mungkin dia sudah enggak tahan sama saya yang sakit-sakitan," ungkapnya.

Vonis cerai pun akhirnya dijatuhkan oleh pengadilan. Ketujuh anak Parman pun dimenangkan pengadilan untuk diasuh istrinya. "Setelah itulah saya menggelandang begini. Saya sudah tidak punya tempat tinggal lagi. Kedua orang tua dan saudara-saudara saya sudah meninggal semua," kata Parman.

Tiap hari Parman menggantungkan hidupnya pada belas kasihan orang. Untuk tidur dan istirahat ia selalu merebahkan diri di masjid-masjid di sekitaran Blok M. Sementara untuk makan dan minum ia hanya berharap pada kebaikan hati orang yang ditemuinya. "Kalau makan siang saya selalu dikasih sama polisi-polisi di Mabes Polri. Jatah makanan sisa mereka selalu dikasih saya," ucap Parman.

Begitulah Parman setiap harinya bertahan hidup. Pria keturunan Chinese asal Salatiga ini pun sebenarnya tak ingin hidup menjadi gelandangan. Ia mengaku sudah dua kali menyambangi panti sosial untuk bisa tinggal di dalam panti. "Tapi ditolak. Katanya saya masih bisa jalan dan masih bisa keliling-keliling. Jadi enggak usah masuk panti," tuturnya.

Berharap pada Anak

Parman mengaku tidak ingin merepotkan orang lain dengan kondisi fisiknya. Saat diceraikan istrinya, ia pun tak mengharapkan belas kasihan untuk bisa tetap tinggal bersama anak-anaknya. Terlebih ketujuh anaknya pun belum ada yang bisa dikatakan mapan dan memiliki tempat tinggal sendiri. "Semua anak saya masih ikut ibunya. Saya juga enggak mau kalau harus ngerepotin," tukasnya.

Meski demikian ia pun memiliki harapan agar kelak anak-anaknya bisa segera mandiri. Ia yakin, meski istrinya sudah meninggalkannya, namun anak-anaknya masih menyayanginya. "Saya berdoa, kalau anak-anak saya sudah punya tempat tinggal sendiri, insya Allah saya tinggal sama mereka," tandas pria muslim ini.

Matahari makin meninggi. Parman beranjak melangkahkan kakinya untuk mencari tempat persinggahan berikutnya. "Saya mau ke masjid dulu mas. Mau istirahat dulu," kata dia mengakhiri pembicaraan singkat siang ini.

Parman mungkin hanya sepenggal kisah korban krisis ekonomi yang pernah mendera Indonesia. Hancurnya keuangan menjadi sabab musabab dari segala bencana yang kemudian datang bertubi-tubi. Perhatian pemerintah pada penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) tentu masih belum sepenuhnya menjangkau sosok seperti Parman.

Di tengah maraknya pemberitaan mengenai upaya penertiban anak-anak jalanan oleh Dinas Sosial Pemprov DKI Jakarta, alangkah baiknya jika gelandangan-gelandangan seperti Parman pun mendapat perhatian dan perlakuan yang manusiawi dari pemerintah sebagaimana dijamin dalam UUD 1945.

[+/-] Selengkapnya...

Template by : Kendhin x-template.blogspot.com