Custom Search
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan

Mastercard Luncurkan Kartu Kredit Bebas Bunga


Financial Post

.

TORONTO--Raksasa penyedia kartu kredit dunia, Mastercard, meluncurkan sebuah kartu kredit baru bebas bunga pertama di Amerika Utara. Kartu kredit yang mengadopsi sistem syariah ini dapat digunakan baik oleh kalangan Muslim maupun non-Muslim.

Kartu yang diberi label iFreedom Plus Mastercard ini, akan tersedia dalam beberapa hari mendatang. Pengelolanya menjanjikan, tak ada tagihan bunga dalam billing statement tiap bulannya, tak seperti kartu kredit konvensional yang dianggap "mencekik" saat krisis ekonomi melanda wilayah ini.

"Di Barat, semua orang dalam kehidupan mereka sehari-hari, memerlukan kartu kredit. Tanpa itu Anda tidak dapat menyewa mobil, Anda tidak dapat melakukan perjalanan, dan seterusnya. Setiap orang pasti memiliki satu di saku mereka," kata Omar Kalair, presiden UM Financial, sebuah perusahaan pembiayaan di Toronto.

Tapi bank menerapkan insentif menyebabkan dilema untuk konsumen Muslim di Kanada, katanya. Dengan iFreedom Plus Mastercard, pemegang bisa berbelanja di muka hingga 6.000 dolar AS tanpa bunga. "Saat berbelanja dengan kartu kredit, Anda tengah menghabiskan uang Anda sendiri sebenarnya, dan ketika sudah mendekati limit, Anda dibuat stress karenanya. Dengan kartu syariah tidak demikian," tambahnya.

Pemegang kartu hanya diwajibkan membayar 50 dolar AS untuk dua tahun penggunaan dan setiap transfer dari kas ke kartu dikenakan biaya 95 sen. Dan karena produk baru tidak sebenarnya melibatkan kredit, pemohon disetujui tanpa pemeriksaan kredit.

Kartu ini diluncurkan pada Konferensi Bebas Riba se-Amerika Utara yang pertama di Toronto. Account kartu akan dikelola oleh Mint Technology, yang beroperasi juga pada program lain, kartu prabayar. [www.republika.co.id]


Red: siwi
Sumber: Financial Post

[+/-] Selengkapnya...

Asal-Usul Nama Uang Kita Rupiah

Asal usul nama uang kita rupiah



Pernah kepikiran kalau mata uang Indonesia harus RUpiah.. Pastilah pernah kadang" tersirat di pikiran.

Nahh.. Kali ini mari kita bahas ulasan mengenai asal usul rupiah yang notabene menjadi nama mata uang Indonesia.




















Perkataan “rupiah” berasal dari perkataan “Rupee”, satuan mata uang India. Indonesia telah menggunakan mata uang Gulden Belanda dari tahun 1610 hingga 1817. Setelah tahun 1817, dikenalkan mata uang Gulden Hindia Belanda.

Mata uang rupiah pertama kali diperkenalkan secara resmi pada waktu Pendudukan Jepang sewaktu Perang Dunia ke-2, dengan nama rupiah Hindia Belanda. Setelah berakhirnya perang, Bank Jawa (Javaans Bank, selanjutnya menjadi Bank Indonesia) memperkenalkan mata uang rupiah jawa sebagai pengganti.

Mata uang gulden NICA yang dibuat oleh Sekutu dan beberapa mata uang yang dicetak kumpulan gerilya juga berlaku pada masa itu.

Sejak 2 November 1949, empat tahun setelah merdeka, Indonesia menetapkan Rupiah sebagai mata uang kebangsaannya yang baru. Kepulauan Riau dan Irian Barat memiliki variasi rupiah mereka sendiri tetapi penggunaan mereka dibubarkan pada tahun 1964 di Riau dan 1974 di Irian Barat.

Krisis ekonomi Asia tahun 1998 menyebabkan nilai rupiah jatuh sebanyak 35% dan membawa kejatuhan pemerintahan Soeharto.

Rupiah merupakan mata uang yang boleh ditukar dengan bebas tetapi didagangkan dengan pinalti disebabkan kadar inflasi yang tinggi .

Satuan di bawah rupiah

Rupiah memiliki satuan di bawahnya. Pada masa awal kemerdekaan, rupiah disamakan nilainya dengan gulden Hindia Belanda, sehingga dipakai pula satuan-satuan yang lebih kecil yang berlaku di masa kolonial.

Berikut adalah satuan-satuan yang pernah dipakai namun tidak lagi dipakai karena penurunan nilai rupiah menyebabkan satuan itu tidak bernilai penting.

* sen, seperseratus rupiah (ada koin pecahan satu dan lima sen)
* cepeng, hepeng, seperempat sen, dari feng, dipakai di kalangan Tionghoa
* peser, setengah sen
* pincang, satu setengah sen
* gobang atau benggol, dua setengah sen
* ketip/kelip/stuiver (Bld.), lima sen (ada koin pecahannya)
* picis, sepuluh sen (ada koin pecahannya)
* tali, seperempat rupiah (25 sen, ada koin pecahan 25 dan 50 sen)

Terdapat pula satuan uang, yang nilainya adalah sepertiga tali.

Satuan di atas rupiah

Terdapat dua satuan di atas rupiah yang sekarang juga tidak dipakai lagi.
* ringgit, dua setengah rupiah (pernah ada koin pecahannya)
* kupang, setengah ringgit



[Sumber : www.lintasberita.com/timestotalk.blogspot.com]



[+/-] Selengkapnya...

Inilah Bagian Otak Yang Bikin Takut Kehilangan Uang

Inilah Bagian Otak Yang Bikin Takut Kehilangan Uang



Takut kehilangan uang mungkin suatu hal yang lumrah pada manusia. Sebuah studi para ahli dari California, Amerika Serikat, belum lama ini berhasil menemukan bagian otak yang memicu ketakutan akan kehilangan uang.

Dalam laporan riset yang dipublikasikan jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences , para ahli mengidentifikasi daerah otak yang disebut amiglada bertanggung jawab atas perilaku seseorang saat mempertaruhkan sesuatu.

Ketika amiglada ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya, seseorang cenderung berani mengambil risiko sangat besar.

Amiglada merupakan bagian otak yang terdiri dari dua jaringan sebesar kacang almond. Bagian ini dikaitkan dengan perasaan dan persepsi ketakutan dan kemampuan untuk berempati.

Temuan ini, kata peneliti, menawarkan pemahaman mengenai perilaku ekonomi dan menunjukkan bahwa manusia berkembang untuk bersikap hati-hati mengenai prospek kehilangan makanan atau harta lain yang berharga.

Penulis riset ini, Benedetto De Martino dari California Institute of Technology di Pasadena dan University College of London menyatakan penelitian ini dapat menjelaskan mengapa orang akan menolak bertaruh walaupun ada peluang menghasilkan kemenangan.

"Bukti laboratorium dan kenyataan menunjukkan, orang sering menghindari risiko kehilangan bahkan ketika mereka mungkin memperoleh hasil yang lebih besar, pilihan perilaku yang disebut `keengganan terhadap kerugian`," kata peneliti.

"Bayangkan Anda sedang dalam acara Who Wants to Be a Millionaire. Anda baru saja menjawab pertanyaan senilai 500,000 dollar dengan benar dan dihadapkan pada pertanyaan terakhir.

Anda memiliki peluang 50:50 namun tak tahu jawabannya.. Jika Anda benar, akan menang 1 juta dollar; jika salah kembali ke nilai uang 32.000. Mayoritas orang akan mengambil opsi menyerah dan pulang ke rumah dengan uang senilai 500.000, ungkapnya.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/bc/Constudoverbrain.png

Benedetto De Martino mengamati dua perempuan yang mengidap kelainan genetika langka yang disebut penyakit "Urbach-Wiethe". Para peneliti itu membandingkan reaksi kedua perempuan tersebut dengan 12 orang yang otaknya normal. Menurut Benedetto, studi seperti itu biasanya hanya melibatkan sedikit orang karena tak mungkin atau tidak etis untuk secara sengaja merusak otak seseorang untuk melihat apa yang terjadi.

Dalam studi itu, para relawan diminta ikut taruhan, kondisi mereka mungkin menang 20 dolar atau kalah 5 dolar -- risiko yang tentu diambil oleh kebanyakan orang-- atau akan menang atau kalah 20 dolar, kondisi yang akan ditolak oleh kebanyakan orang. Kedua pasien dengan kerusakan amiglada itu malah tanpa rasa khawatir memasang taruhan sebesar 50 dolar AS.

"Kami kira ini memperlihatkan bahwa amiglada sangat penting dalam memicu rasa hati-hati ke arah penetapan taruhan saat orang mungkin kalah," kata Colin Camerera dari University College London yang juga terlibat dalam riset.

"Amiglada yang berfungsi penuh tampaknya membuat kita lebih berhati-hati. Kita sudah mengetahui bahwa amiglada terlibat di dalam proses kekhawatiran, dan itu tampaknya juga membuat kita `takut` menghadapi risiko kehilangan uang," ungkap anggota peneliti lainnya, Ralph Adolphs.

Sumber :
kesehatan.kompas.com

[+/-] Selengkapnya...

Pajak - Harga Untuk "Masyarakat yang Beradab"?

Man with tax forms and calculator

Are Your
TAXES
Too High?

Taxes—Price of a "Civilized Society"?


1. Bottle and glass filled with alcohol; 2. Cigarettes In many lands high taxes are placed on tobacco products and alcoholic beverage


Taxes finance many of the services that we might take for granted

1. Firemen; 2. Garbage collectors; 3. Policewoman; 4. Teacher in classroom; 5. Road construction



Pajak—Harga untuk ”Masyarakat yang Beradab”?


”Pajak adalah apa yang kita bayar guna memperoleh masyarakat yang beradab.”—Inskripsi pada gedung Kantor Pelayanan Pajak, Washington, DC.



PEMERINTAH menyatakan bahwa pajak tidak menyenangkan tetapi perlu—harga untuk ”masyarakat yang beradab”. Apakah Anda sependapat dengan opini itu atau tidak, tak dapat disangkal bahwa harga tersebut biasanya tinggi.

Pajak dapat dibagi dalam dua kategori: langsung dan tidak langsung. Pajak penghasilan, pajak perusahaan, dan pajak properti adalah contoh pajak langsung. Dari semua ini, pajak penghasilan mungkin yang paling mengesalkan. Ini khususnya demikian di negeri-negeri yang menetapkan pajak penghasilan progresif—semakin tinggi penghasilan Anda, semakin tinggi pajak yang Anda bayar. Kritikus menyatakan bahwa pajak progresif menghukum kerja keras dan kesuksesan.

OECD Observer, sebuah publikasi Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi, mengingatkan kita bahwa selain pajak yang dibayarkan kepada pemerintah pusat, ”orang yang memperoleh penghasilan mungkin harus membayar pajak penghasilan kepada pemerintah setempat, regional, provinsi atau negara bagian selain kepada pemerintah pusat. Demikianlah yang terjadi di Amerika Serikat, Belgia, Islandia, Jepang, Kanada, Korea, negeri-negeri Skandinavia, Spanyol, dan Swiss”.

Pajak tidak langsung mencakup pajak penjualan, pajak atas minuman keras dan rokok, dan bea masuk. Pajak ini tidak semencolok pajak langsung tetapi masih dapat memberikan pukulan ekonomi yang hebat, terutama di kalangan orang miskin. Dalam majalah India Frontline, penulis Jayali Ghosh menyatakan bahwa ada konsep yang keliru bahwa para wajib pajak dari golongan menengah dan kaya adalah pembayar pajak terbesar di India. Ghosh mengatakan, ”Untuk pemerintah-pemerintah Negara Bagian, jumlah pajak tidak langsung mencapai lebih dari 95 persen total pungutan pajak mereka. . . . Kemungkinan besar orang miskinlah yang sebenarnya membayar bagian yang lebih besar dari penghasilan mereka dalam bentuk pajak, daripada orang kaya.” Pajak yang tinggi atas barang-barang konsumsi massal, seperti sabun dan makanan, tampaknya menciptakan kesenjangan ini.

Apa persisnya yang diperbuat pemerintah dengan semua uang yang mereka kumpulkan?


Cara Uang Itu Digunakan

Memang, pemerintah membutuhkan uang yang sangat banyak untuk mengelola dan menyediakan pelayanan yang diperlukan. Di Prancis, misalnya, 1 dari 4 orang bekerja di sektor pemerintah. Ini mencakup guru, pegawai kantor pos, personel museum dan rumah sakit, polisi, dan pegawai pemerintah lainnya. Pajak dibutuhkan untuk membayar gaji mereka. Pajak juga digunakan untuk jalan, sekolah, serta rumah sakit dan turut membayar pelayanan seperti pengumpulan sampah dan pengiriman pos.

Biaya militer merupakan alasan penting lain untuk memungut pajak. Pajak penghasilan pertama kali dikenakan pada orang-orang Inggris yang kaya untuk membiayai perang melawan Prancis pada tahun 1799. Akan tetapi, selama Perang Dunia II, pemerintah Inggris mulai mengharuskan kaum buruh ikut membayar pajak penghasilan. Dewasa ini, pembiayaan angkatan bersenjata suatu bangsa terus menjadi urusan yang menyedot uang, bahkan pada masa-masa damai. Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm memperkirakan bahwa pembelanjaan militer dunia pada tahun 2000 mencapai sekitar 798 miliar dolar AS.

Rekayasa Sosial

Pajak juga berfungsi sebagai ”rekayasa sosial”—sarana untuk mendukung atau mencegah bentuk perilaku tertentu. Pajak alkohol, contohnya, diharapkan mengurangi minum minuman beralkohol secara berlebihan. Maka, di banyak negeri, pajak meraup sekitar 35 persen harga eceran bir.

Pajak yang berat juga dikenakan pada tembakau. Di Afrika Selatan, pajak meraup 45 hingga 50 persen harga setiap bungkus rokok. Akan tetapi, pemerintah dalam menggiatkan pajak seperti itu mungkin tidak selalu dimotivasi oleh kepedulian yang sejati terhadap warganya. Sebagaimana yang dinyatakan penulis Kenneth Warner dalam majalah Foreign Policy, tembakau adalah ”kekuatan ekonomi yang sangat kuat yang setiap tahun menghasilkan ratusan miliar dolar dari penjualan dan miliaran dolar lagi dari pendapatan pajak”.

Satu contoh rekayasa sosial yang terkenal terjadi pada awal abad ke-20. Badan legislatif AS berikhtiar untuk membatasi pembentukan dinasti-dinasti keluarga kaya. Caranya? Dengan menciptakan pajak warisan. Sewaktu seorang kaya meninggal, pajak meraup sejumlah besar kekayaan yang dikumpulkannya. Para pendukungnya berpendapat bahwa pajak itu ”mengalihkan kekayaan dari jalur keluarga aristokrat ke jalur masyarakat demokratis”. Boleh jadi demikian halnya, tetapi para wajib pajak yang kaya telah mengembangkan sejumlah strategi untuk meredam dampak pajak itu.

Pajak terus digunakan untuk menggalang berbagai isu sosial, seperti lingkungan. The Environmental Magazine melaporkan, ”Sembilan negara Eropa Barat belum lama ini telah mengimplementasikan pengalihan pajak lingkungan, sebagian besar sebagai sarana untuk mengurangi polutan udara.” Pajak penghasilan progresif, yang disebutkan di awal, merupakan upaya rekayasa sosial lainnya; gagasannya adalah untuk mengurangi kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Beberapa pemerintah juga memberikan pengurangan pajak kepada orang-orang yang memberikan sumbangan amal atau kepada pasangan suami istri yang punya anak-anak.

Mengapa Begitu Rumit?

Setiap kali suatu pajak baru diusulkan, para legislator mencoba menutup setiap kemungkinan adanya celah hukum pajak. Ingatlah: Uang yang jumlahnya sangat besar sedang dipertaruhkan. Hasilnya? Hukum perpajakan cenderung rumit dan sangat teknis. Suatu artikel di majalah Time menjelaskan bahwa sebagian besar kerumitan dalam hukum perpajakan AS ”timbul sewaktu mendefinisikan penghasilan”, yakni sewaktu menentukan hal apa saja yang bisa dikenai pajak. Kerumitan lebih lanjut timbul karena luar biasa banyaknya peraturan yang ”memungkinkan berbagai pengurangan dan pengecualian”. Akan tetapi, bukan hanya Amerika Serikat yang mempunyai hukum perpajakan yang rumit. Sebuah edisi baru undang-undang perpajakan Kerajaan Inggris disusun ke dalam 9.521 halaman, dibagi menjadi sepuluh jilid buku.

Kantor Penelitian Kebijakan Perpajakan di University of Michigan melaporkan, ”Setiap tahun para wajib pajak AS menghabiskan lebih dari tiga miliar jam untuk mengisi formulir pajak penghasilan mereka. . . . Secara keseluruhan, jumlah waktu dan uang yang digunakan oleh para wajib pajak AS [dalam mengisi formulir pajak] mencapai 100 miliar dolar setiap tahun, atau sekitar 10% pajak yang terkumpul. Sebagian besar biaya kepatuhan ini dikarenakan kerumitan yang luar biasa dari hukum pajak penghasilan.” Reuben, yang disebut di awal artikel pertama serial ini, mengatakan, ”Saya sebelumnya mencoba mempersiapkan formulir pajak saya sendiri, tetapi hal itu sangat memakan waktu, dan saya sering merasa bahwa saya membayar lebih banyak daripada seharusnya. Maka, kini saya membayar seorang akuntan untuk mempersiapkan formulir pajak saya.”—Lihat kotak ”Mematuhi Hukum Perpajakan”, di halaman 8.

Pembayar, Penghindar, dan Penggelap

Kebanyakan orang setidaknya akan dengan berat hati mengakui manfaat yang dihasilkan pajak untuk komunitas mereka. Kepala Pendapatan Dalam Negeri Inggris pernah menjelaskan, ”Tidak seorang pun senang membayar pajak penghasilan, tetapi hampir tidak ada yang berpendapat bahwa keadaan kita akan lebih baik tanpa pajak itu.” Ada yang memperkirakan bahwa tingkat kepatuhan terhadap pajak di Amerika Serikat mencapai 90 persen. Seorang pakar perpajakan mengakui, ”Sebagian besar ketidakpatuhan timbul dari kesulitan dengan hukum dan prosedur, bukan penggelapan yang disengaja.”

Meskipun demikian, banyak orang menemukan cara untuk menghindari pembayaran pajak tertentu. Misalnya, perhatikan apa yang dikatakan sebuah artikel di U.S.News & World Report mengenai pajak perusahaan, ”Banyak firma secara legal mengelak dari membayar sebagian besar kewajiban pajak mereka—dan kadang-kadang semuanya—melalui pengurangan pajak dan manuver akuntansi.” Sewaktu memberikan contoh tentang satu siasat cerdik, artikel itu melanjutkan, ”Sebuah perusahaan AS mendirikan sebuah firma di negeri asing yang tarif pajaknya menguntungkan. Kemudian, perusahaan AS itu dialihkan menjadi cabang perusahaan luar negerinya.” Dengan demikian, perusahaan itu tidak perlu membayar pajak AS—yang bisa setinggi 35 persen—meskipun ”kantor pusatnya mungkin tidak lebih dari sebuah lemari arsip dan kotak surat”.

Kemudian, ada yang terang-terangan menggelapkan pajak. Menurut laporan, penggelapan pajak dipandang sebagai ”permainan nasional” di sebuah negara Eropa. Suatu survei di Amerika Serikat mendapati bahwa hanya 58 persen pria berusia antara 25 dan 29 tahun yang percaya bahwa tidak melaporkan semua penghasilan adalah perbuatan yang salah. Para penggagas survei itu mengakui, ”Laporan itu tidak menyingkapkan bahwa etika dan moralitas masyarakat kita cukup tinggi.” Di Meksiko, penggelapan pajak diperkirakan mencapai sekitar 35 persen.
Namun, secara umum orang mengakui perlunya pajak dan tidak berkeberatan untuk membayar bagian mereka secara jujur. Akan tetapi, kata-kata terkenal dari Tiberius Caesar ada benarnya, ”Seorang gembala yang baik seharusnya memangkas bulu ternaknya, bukan mengulitinya.” Jika Anda merasa diperlakukan sewenang-wenang oleh suatu sistem yang tampak membebani, tidak adil, dan terlalu rumit, bagaimana seharusnya Anda memandang pembayaran pajak?


Pikirkan Sebelum Anda Pindah!

Sistem perpajakan sangat beragam dari satu negeri ke negeri lain. Malah, pajak penghasilan setempat bisa sangat beragam di negeri yang sama. Cocokkah untuk mempertimbangkan pindah ke suatu daerah yang tarif pajaknya lebih rendah? Mungkin, tetapi Anda hendaknya berpikir sebelum pindah.

Contohnya, sebuah artikel di OECD Observer mengingatkan para pembaca bahwa tarif dasar pajak penghasilan bukan satu-satunya yang harus dipertimbangkan. Artikel itu mengatakan, ”Tagihan pajak aktual dari wajib pajak perorangan juga berpengaruh terhadap berbagai pengurangan.” Misalnya, beberapa negeri memiliki tarif pajak penghasilan yang rendah. Tetapi, mereka memberikan ”sangat sedikit kelonggaran atas pengurangan dan pengecualian pajak dasar”. Alhasil, orang itu akhirnya bisa jadi harus membayar lebih banyak di sana daripada di negeri yang tarif pajaknya lebih tinggi tetapi menawarkan lebih banyak pengecualian dan pengurangan pajak.

Di Amerika Serikat, ada yang mempertimbangkan untuk pindah ke negara-negara bagian yang tidak mengenakan pajak penghasilan. Tetapi, apakah ini sudah pasti menyelamatkan uang seseorang? Tidak demikian halnya menurut Kiplinger’s Personal Finance, yang mengatakan, ”Dalam beberapa kasus, penelitian kami memperlihatkan bahwa negara-negara bagian yang tidak memungut pajak penghasilan mengkompensasikannya dengan tarif pajak properti, pajak penjualan, dan pajak kategori lainnya yang lebih tinggi.”


Mematuhi Hukum Perpajakan

Bagi kebanyakan dari kita, membayar pajak adalah suatu urusan yang menekan dan membebani. Oleh karena itu, Sedarlah! meminta beberapa saran praktis dari seorang pakar perpajakan.

”Carilah saran yang masuk akal. Ini sangat penting, karena hukum perpajakan bisa rumit, dan kurangnya pengetahuan tentang hukum itu jarang sekali diterima sebagai alasan yang sah untuk ketidakpatuhan. Kendati seorang wajib pajak mungkin menganggap para petugas pajak sebagai musuh, mereka ini sering kali dapat memberikan petunjuk yang akurat dan sederhana mengenai caranya menangani masalah pajak. Para pegawai perpajakan lebih suka apabila Anda mengisi formulir pajak dengan benar sejak awal. Mereka tidak mau mendakwa Anda karena tidak patuh.

”Jika keuangan Anda rumit, mintalah saran dari seorang akuntan pajak profesional. Tetapi, waspadalah! Meskipun ada banyak akuntan pajak profesional yang peduli terhadap Anda, ada banyak yang tidak seperti itu. Mintalah rekomendasi dari seorang sahabat atau rekan bisnis yang tepercaya, dan selidikilah reputasi akuntan itu.

”Segeralah bertindak. Sanksi atas keterlambatan menyerahkan informasi bisa sangat berat.
”Simpanlah dokumen dengan rapi. Apa pun sistem pembukuan Anda, jagalah agar tetap terkini. Dengan begitu, tidak banyak waktu yang terbuang sewaktu Anda harus mengisi formulir pajak. Posisi Anda juga akan lebih baik ketika dokumen Anda harus diaudit.

”Jujurlah. Anda mungkin tergoda untuk curang atau mungkin sedikit membengkokkan peraturan. Tetapi, para petugas pajak punya banyak cara yang lihai untuk menemukan laporan yang tidak benar. Yang selalu terbaik adalah bersikap jujur.

”Jangan lepas tangan. Jika orang yang Anda bayar untuk mempersiapkan pembayaran pajak Anda melaporkan informasi yang tidak akurat, Andalah yang harus bertanggung jawab. Maka, pastikanlah agar wakil Anda itu bertindak selaras dengan keinginan Anda.”



Sumber :
Watchtower Library 2008 (Bahasa Indonesia)
Appeared in Awake! December 8, 2003
Copyright © 2006 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania. All rights reserved. Website : www.watchtower.org


*) Lihat juga artikel : "Kekesalan Yang Meningkat Terhadap pajak?"

[+/-] Selengkapnya...

Kekesalan Yang Meningkat Terhadap Pajak

Kekesalan yang Meningkat terhadap Pajak?



”Sekalipun saya banting tulang, hasilnya dirampas dari saya.”—Peribahasa orang Babilonia, sekitar tahun 2300 SM.

”Dalam dunia ini, tidak ada yang pasti selain kematian dan pajak.”—Negarawan AS Benjamin Franklin, tahun 1789.


REUBEN bekerja sebagai wiraniaga. Setiap tahun, hampir sepertiga gaji yang ia peroleh dengan susah payah menguap dalam bentuk pajak. ”Saya tidak melihat ke mana perginya semua uang itu,” keluhnya. ”Dengan begitu banyaknya pemangkasan anggaran oleh pemerintah, kami menerima lebih sedikit pelayanan daripada yang sudah-sudah.”

Akan tetapi, suka atau tidak, pajak adalah bagian dari kehidupan. Penulis Charles Adams mengatakan, ”Pemerintah telah memungut pajak penghasilan dalam banyak cara semenjak adanya peradaban.” Pajak telah sering menimbulkan kekesalan dan kadang-kadang memicu pemberontakan. Orang Inggris zaman dahulu yang memerangi orang Romawi, mengatakan, ”Jauh lebih baik dibantai daripada hidup dibebani pajak!” Di Prancis, kebencian terhadap gabelle, pajak garam, turut memicu Revolusi Prancis, masa manakala para pemungut pajak dipancung dengan guillotine. Pemberontakan gara-gara pajak juga berperan dalam perang kemerdekaan AS melawan Inggris.

Tidak heran, kekesalan terhadap pajak terus ada hingga hari ini. Para pakar mengatakan bahwa sistem perpajakan di negara-negara berkembang sering kali ”tidak efisien” dan ”tidak adil”. Menurut seorang peneliti, ada sebuah negeri Afrika yang jatuh miskin yang memiliki ”lebih dari 300 pajak setempat, yang mustahil dikelola bahkan oleh pegawai yang paling cakap. Pemungutan yang patut dan mekanisme pemantauan tidak ada atau tidak diterapkan, . . . menciptakan peluang untuk penyalahgunaan”. BBC News melaporkan bahwa di sebuah negeri Asia, ”para pejabat setempat memberlakukan banyak . . . pungutan liar—dari pajak untuk menanam pisang hingga pajak untuk menyembelih babi—baik untuk [meningkatkan] keuangan pemerintah setempat maupun untuk menebalkan kocek mereka sendiri”.

Kesenjangan antara si kaya dan si miskin mengobarkan api kekesalan. Publikasi PBB yaitu Africa Recovery mengatakan, ”Salah satu dari banyak perbedaan ekonomi antara negara maju dan negara berkembang ialah bahwa negara maju mensubsidi para petani sedangkan negara berkembang memajaki para petani. . . . Penelitian Bank Dunia memperlihatkan bahwa subsidi AS saja mengurangi pendapatan tahunan Afrika Barat dari ekspor katun sebesar 250 [juta] dolar AS per tahun.” Maka, para petani di negara berkembang kesal sewaktu pemerintah mereka memungut pajak dari penghasilan mereka yang sudah kecil. Seorang petani di sebuah negeri Asia mengatakan, ”Setiap kali [pejabat pemerintah] datang ke sini, mereka pasti akan minta uang.”

Kekesalan serupa belakangan ini terlihat di Afrika Selatan sewaktu pemerintah memberlakukan pajak tanah pada petani. Para petani mengancam akan menuntut ke pengadilan. Pajak itu ”akan menyebabkan kebangkrutan di kalangan petani dan lebih banyak pengangguran di kalangan pekerja pertanian”, kata seorang juru bicara para petani. Kadang-kadang, kekesalan terhadap pemajakan masih menimbulkan tindak kekerasan. BBC News melaporkan, ”Dua petani [Asia] terbunuh pada tahun lalu ketika polisi menyerbu sebuah desa yang penduduknya menentang pajak yang berlebihan.”

Namun, bukan hanya si miskin yang kesal terhadap pembayaran pajak. Suatu jajak pendapat di Afrika Selatan menyingkapkan bahwa banyak wajib pajak yang makmur ”tidak rela membayar pajak tambahan—sekalipun hal itu berarti bahwa pemerintah tidak akan bisa meningkatkan pelayanan yang penting bagi mereka”. Para selebriti terkemuka dalam bidang musik, film, olahraga, dan politik telah menjadi berita utama karena penggelapan pajak. Buku The Decline (and Fall?) of the Income Tax menyatakan, ”Sungguh menyedihkan, para pejabat tinggi kita, para presiden kita, juga sama sekali bukan model yang sempurna dalam menggugah warga negara biasa untuk menaati hukum perpajakan.”

Barangkali Anda juga merasa bahwa pajak itu berlebihan, tidak adil, dan sangat membebani. Maka, bagaimana seharusnya Anda memandang pembayaran pajak? Apakah pajak itu benar-benar berguna? Mengapa sistem perpajakan sering kali begitu rumit dan tampaknya tidak adil? Artikel berikut akan mengulas pertanyaan-pertanyaan ini.

In developing lands the poor may carry an unfair share of the tax burden (Di negara berkembang, orang miskin mungkin menanggung beban pajak yang tidak adil).

Woman working the land with her baby tied on her back
(Godo-Foto)



Sumber :
Watchtower Library 2008 (Bahasa Indonesia)
Appeared in Awake! December 8, 2003
Copyright © 2006 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania. All rights reserved. Website : www.watchtower.org


*) Baca artikel terkait : Pajak—Harga untuk ”Masyarakat yang Beradab”?

[+/-] Selengkapnya...

Perlukah Saya Punya Kartu Kredit

Pertanyaan Kaum Muda . . .


Perlukah Saya Punya Kartu Kredit?




"Saya dikirimi penawaran kartu kredit untuk pertama kalinya sewaktu saya berusia 16 tahun.... Ketika saya menginjak usia 18 tahun, utang saya sudah lebih dari 60,000 dolar AS. —Kristin.

Young woman receiving a credit card in the mail





AWALNYA, Kristin berencana menggunakan kartu kreditnya hanya untuk keadaan darurat—dan mungkin sesekali untuk membeli barang yang tidak dijual secara tunai. Kemudian, kenyataannya melenceng jauh dari rencana semula. ”Saya mulai gila belanja dan asyik memesan ini-itu dari katalog,” demikian pengakuan Kristin. ”Saya membeli barang yang bahkan tidak saya sukai.” Sekarang, Kristin mempunyai pandangan yang berbeda tentang kartu kredit. ”Benar-benar tidak habis pikir, kehidupan saya berantakan gara-gara sekeping kartu plastik,” katanya.—Majalah Teen.

Kisah Kristin ini bukannya jarang terjadi. Makin banyak remaja sedang menuju bahaya finansial dengan menggunakan sekeping plastik itu, kartu kredit. Kadang-kadang, perusahaan-perusahaan dengan agresif mengincar anak-anak muda. Agaknya, mereka tahu bahwa jika seseorang mulai gila belanja, maka baginya, kartu kredit akan menjadi ”candu finansial”, istilah yang dikemukakan oleh pakar finansial Jane Bryant Quinn. ”Semakin sering digunakan,” katanya, ”semakin sulit menghentikannya.”

Memang, mempunyai kartu kredit dapat memberikan keuntungan—misalnya, sewaktu timbul keadaan darurat atau sewaktu tidak bijaksana membawa uang tunai. Itulah salah satu alasannya mengapa kartu kredit telah begitu populer di Amerika Serikat serta di negara-negara lain. Akan tetapi, jika digunakan secara tidak bijaksana, kartu kredit dapat menjerumuskan penggunanya ke dalam lubang finansial yang tak berdasar. Oleh karena itu, sebuah laporan yang diterbitkan Globe and Mail dari Toronto mengamati adanya kenaikan tiga kali lipat ”dalam jumlah orang berusia 20 hingga 23 tahun yang terlilit utang dan meminta bantuan dari Pelayanan Konseling Kredit di Toronto”. Laporan itu menyatakan bahwa banyak yang berutang hingga 25.000 dolar, dan tagihan kartu kredit adalah salah satu penyebab utama utang tersebut.

Perlukah Anda punya kartu kredit? Itu merupakan keputusan orang-tua Anda. Jika mereka pikir Anda masih belum perlu, bersabarlah. Jika Anda sudah terbukti bijaksana dalam membelanjakan uang, mungkin tidak lama lagi orang-tua Anda akan memberikan Anda tanggung jawab finansial yang lebih besar. (Bandingkan Lukas 16:10.) Sementara itu, Anda hendaknya mengetahui bahwa menggunakan kartu kredit—kurang lebih sama dengan mengendarai kendaraan—punya keuntungan sekaligus risiko.

Menghitung Biayanya

Membeli dengan kartu kredit pada dasarnya sama dengan meminjam uang. Dan, dalam soal pinjam-meminjam, Anda harus membayar kembali apa yang dipinjamkan kepada Anda. (Amsal 22:7) Tetapi, bagaimana Anda dapat membayar untuk barang-barang yang Anda beli dengan kartu kredit?

Biasanya, rekening tagihan akan dikirimkan kepada Anda menjelang akhir setiap bulan, yang memerinci pembelian dengan kartu kredit serta jumlah total utang Anda. Tagihan itu juga memperlihatkan batas minimum yang harus segera Anda bayarkan. Biasanya, jumlah ini cukup rendah. Oleh karenanya, Anda mungkin berpikir, ’Jumlahnya masih belum seberapa. Jika saya membayar jumlah minimumnya saja setiap bulan, lama-lama utang saya akan lunas.’ Akan tetapi, masalahnya adalah bahwa setelah batas waktu pembayarannya lewat, Anda akan dikenai biaya pinjaman—bunga—ke jumlah utang Anda yang tersisa. Dan, tingkat bunga kartu kredit sangat tinggi.

Perhatikan Joseph, yang saldo tagihannya dalam sebulan mencapai sekitar 1.000 dolar. Tentu saja, Joseph hanya perlu membayar tagihan minimumnya, yakni 20 dolar. Tetapi, sewaktu ia memeriksa tagihannya, Joseph mendapati bahwa saldo pada bulan itu dikenai beban bunga senilai hampir 17 dolar! Itu berarti bahwa meskipun Joseph telah membayar tagihan minimumnya sebesar 20 dolar, ia sebenarnya baru mengangsur sebesar 3 dolar dari total utangnya yang sebesar 1.000 dolar!

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melunasi tagihan kartu kredit jika Anda hanya membayar tagihan minimumnya? Dengan mengambil contoh hipotesis, sebuah buku kecil yang diterbitkan oleh Komisi Perdagangan Federal AS dan American Express menyatakan, ”Jika Anda mempunyai saldo terutang sebesar 2.000 dolar, dengan bunga 18,5% dan pembayaran minimum bulanan yang rendah, dibutuhkan lebih dari 11 tahun untuk melunasi utang itu dan Anda harus membayar bunga sebesar 1.934 dolar, yang berarti hampir dua kali lipat nilai pembelian Anda semula.”

Jadi, jika Anda tidak berhati-hati menggunakan kartu kredit, Anda dapat jatuh ke dalam sumur finansial yang dalam yang Anda gali sendiri. ”Saya sebenarnya harus membayar dua kali lipat untuk semuanya,” kata Kristin. ”Sewaktu saya mulai kesulitan membayar tagihan, perusahaan kartu kredit membebankan denda. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa.”


Young woman shocked by credit card bill


Sembrono menggunakan kartu kredit dapat mendatangkan bencana finansial


Menggunakan Kartu Kredit Secara Bertanggung Jawab

Kristin mendapat pelajaran pahit bahwa berbelanja dengan metode ”beli sekarang, bayar belakangan” benar-benar berbahaya. Utang dapat membengkak dengan cepat, dan tanpa Anda sadari, tagihan minimum Anda setiap bulan ternyata tidak lebih dari sekadar biaya bunga tagihan Anda. Bagaimana pengguna kartu kredit yang bijaksana dapat mewaspadai jerat finansial ini?

Mereka mencatat pembelian mereka dan memeriksa dengan teliti tagihan bulanannya untuk memastikan bahwa tagihan itu benar-benar untuk pembelian yang mereka lakukan.

● Mereka segera melunasi tagihan, menyadari bahwa riwayat pembayaran yang baik akan bermanfaat kelak—mungkin sewaktu melamar pekerjaan, atau untuk asuransi, atau sewaktu mengajukan permohonan kredit rumah atau kendaraan.

● Jika mungkin, mereka membayar penuh tagihan itu, sehingga mereka dapat terhindar dari pembebanan bunga yang tinggi.

● Mereka tidak memberikan nomor kartu kredit dan tanggal jatuh temponya lewat telepon, kecuali mereka kenal betul orang atau perusahaan kartu kredit yang bersangkutan.

● Mereka tidak pernah meminjamkan kartu kredit kepada siapa pun, bahkan teman sekalipun. Lagi pula, si pemilik kartu kreditlah yang akan dirugikan jika kartu tersebut disalahgunakan.

● Mereka tidak menggunakan kartu kredit untuk menarik uang tunai, seolah-olah itu kartu ATM. Ingat, pengambilan tunai biasanya dibebani bunga lebih tinggi daripada pembelian.

● Mereka tidak mengisi dan mengirim setiap formulir penawaran kartu kredit yang mereka terima. Bagi remaja, satu kartu kredit sudah cukup.

● Mereka menggunakan kartu kredit dengan sangat hati-hati, sadar sepenuhnya bahwa sewaktu mereka membeli dengan kartu kredit, mereka sebenarnya sedang mengeluarkan uang, sekalipun bukan dalam bentuk uang kertas atau logam.

Nikmati Manfaatnya

Tidak soal Anda mempunyai kartu kredit sekarang atau bermaksud memilikinya dalam waktu dekat, kenalilah dengan saksama manfaat dan risikonya. Ajukan pertanyaan-pertanyaan berikut ini: Mengapa saya merasa perlu punya kartu kredit? Apakah sekadar untuk memperoleh barang-barang materi, membeli busana terbaru, atau untuk membuat teman-teman terkesan? Perlukah saya belajar lebih berpuas dengan apa yang ada, dengan apa yang disebutkan oleh rasul Kristen Paulus, ”pakaian dan penaungan”? (1 Timotius 6:8) Apakah utang kartu kredit dapat mengarah kepada beban finansial yang parah sehingga saya tidak lagi melihat perkara-perkara yang lebih penting dalam kehidupan ini?—Matius 6:33; Filipi 1:8-11.

Renungkan pertanyaan-pertanyaan tadi, dan bahaslah bersama orang-tua Anda. Dengan demikian, tidak soal apakah Anda memiliki kartu kredit atau tidak, Anda akan terhindar dari masalah finansial yang berat, yang diderita oleh banyak orang akibat kesalahan mereka sendiri.—Amsal 22:3.


[Catatan Kaki]
Anda dapat mengetahui bunga yang dibebankan oleh suatu perusahaan kartu kredit dengan melihat persentase tarif tahunan (APR) yang tertera pada surat permohonan atau tagihan bulanan.



Gunanya Persetujuan Orang-Tua

Banyak remaja pertama kali diberi kesempatan mendapat kartu kredit sendiri sewaktu mereka mendapat kiriman penawaran lewat pos. Bahkan, setelah beberapa waktu, ada yang menerima beberapa surat penawaran. ”Ada persaingan sengit antarperusahaan untuk memasarkan kartu kredit kepada kawula muda,” demikian penjelasan Jane Bryant Quinn, ”karena penelitian memperlihatkan bahwa kita cenderung setia pada kartu kredit kita yang pertama.”

Biasanya, orang-tua atau orang dewasa lainnya yang mempunyai riwayat kredit yang baik harus menandatangani permohonan tersebut sebagai jaminan kepada perusahaan kartu kredit bahwa tagihan itu pasti dibayar. Sayang sekali, banyak anak muda berbuat curang dengan melangkahi tahap ini. Seorang remaja putri menaruh nama neneknya sebagai pemohon kartu utama dan namanya sendiri sebagai pemohon kartu tambahan tanpa sepengetahuan sang nenek. Bayangkan betapa terkejutnya sang nenek sewaktu mendapat tagihan utang sebesar puluhan ribu dolar!

Memalsukan tanda tangan orang-tua atau orang dewasa lainnya pada permohonan kartu kredit merupakan ketidakjujuran, dan ketidakjujuran dikutuk oleh Allah. (Amsal 11:1; Ibrani 13:18) Jadi, jika Anda ingin memiliki kartu kredit, bicarakanlah dengan orang-tua Anda tentang hal ini. Meminta persetujuan mereka jauh lebih baik bagi Anda di kemudian hari. Ingatlah, orang-tua Anda kemungkinan besar tahu persis seperti apa rasanya membayar utang, dan mereka dapat memberi Anda saran yang bijaksana. Jadi, bicarakan dengan mereka dan jangan ambil jalan yang tidak jujur untuk mendapatkan kartu kredit.



Sumber :
Edisi Bahasa Indonesia (Watchtower Library 2008)
Appeared in Awake! December 22, 1999
Copyright © 2006 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania. All rights reserved.

[+/-] Selengkapnya...

Perusahaan Indonesia Masuk Daftar Perusahaan Terbesar Se-Dunia

PERUSAHAAN INDONESIA MASUK DAFTAR PERUSAHAAN TERBESAR SE-DUNIA




Enam Perusahaan RI Masuk Daftar Perusahaan Terbesar Sedunia

Indonesia berhasil masuk dalam daftar 2.000 perusahaan terbesar di dunia versi Forbes, (Forbes Global 2000 List of the World's Biggest Companies), seperti yang dirilis majalah ini pekan lalu.

PT Telkom yang berada di urutan 675 menempati peringkat paling atas dibandingkan perusahaan asal Indonesia lainnya, dengan market value mencapai 10,60 miliar dollar AS, penjualan 6,30 miliar dollar AS, laba 17,41 miliar dollar AS, serta aset 797,77 miliar dollar AS.


Setelah itu, BCA menempati peringkat 930 dengan market value 4,79 miliar dollar AS, kemudian BRI di posisi 988 dengan market value 3,80 miliar dollar AS, Bank Mandiri pada 1.014 dengan 3,01 miliar dollar AS. Bumi Resources di urutan 1.809 dengan market value 1,25 miliar dollar AS, serta BNI menempati posisi 1.960 dengan market value 0,88 miliar dollar AS.

Menurut Forbes, data-data perusahaan yang masuk list ini merupakan data terkini dengan market value berdasarkan tanggal 27 Februari 2009.

Perusahaan-perusahaan yang masuk pada daftar ini berasal dari 62 negara. Amerika Serikat masih mendominasi dengan 551 perusahaan meski menyusut 200 anggota dibanding tahun 2004, pada saat daftar ini pertama kali dipublikasikan Forbes.

Tahun ini China memasukkan 91 perusahaan, Korea 61, dan India 47. Sementara negara-negara Timur Tengah seperti Kuwait, Arabi Saudi, dan Uni Emirat Arab setidaknya mempunyai 10 anggota.

Secara total, perusahaan-perusahaan yang masuk daftar Global 2000 ini mempunyai pendapatan hingga 32 triliun dollar AS, laba 1,6 triliun dollar AS, aset 125 triliun dollar AS, dan market value 20 triliun dollar AS.

Adapun perusahaan-perusahaan yang menempati 10 besar dalam daftar ini adalah: (dalam juta dollar AS)

Sales Profit Asset Market Value
1 General Electric 182,52 17,41 797,77 89,87
2 Royal Dutch Shell 458,36 26,28 278,44 135,10
3 Toyota Motor 263,42 17,21 324,98 102,35
4 ExxonMobil 425,70 45,22 228,05 335,54
5 BP 361,14 21,16 228,24 119,70
6 HSBC Holdings 142,05 5,73 2.520,45 85,04
7 AT&T 124,03 12,87 265,25 140,08
8 Wal-Mart Stores 405,61 13,40 163,43 193,15
9 Banco Santander 96.23 13.25 1,318.86 49.75
10 Chevron 255.11 23.93 161.17 121.70



(Sumber : www.lintasberita.com)



[+/-] Selengkapnya...

Rahasia Dibalik Kesuksesan Produk Cina Mengausai Pasar Dunia





Oleh: Muhammad Subair


Di saat negara kita sedang berjuang mati-matian untuk meningkatkan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, di lain pihak Cina justru mengalami tekanan dari dunia agar mau mengambangkan nilai mata uangnya yang dinilai dipatok terlau rendah. Pematokan nilai yuan yang sudah dilakukan semenjak tahun 1994 ini diprotes karena dianggap sebagai penyebab utama miringnya harga produk-produk Cina di pasaran dunia (Sarnianto, 2004). Kekhawatiran tersebut memang beralasan melihat hampir dapat dikatakan produk-produk berlabel made in China medominasi pasar dunia mulai dari sekedar peniti sampai perangkat elektronika canggih.

Banyak faktor yang mendorong perekonomian Cina sehingga bisa menjadi seperti sekarang ini, dimana dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata diatas 7% setiap tahunnya telah mengantarkan Cina sebagai salah satu raksasa perekonomian dunia. Faktor nilai tukar mata uang sudah pasti bukanlah satu-satunya penyebab produk-produk negara dengan populasi terbesar di dunia ini mampu berjaya menguasai pasar dunia. Hal ini tentu saja dapat dimaklumi mengingat kalau hanya faktor itu, seharusnya Indonesia juga sudah bisa mengambil mamfaat dari nilai tukar rupiah yang sangat menyedihkan.

Salah satu hal lain yang lebih penting dari itu adalah faktor apakah yang menyebabkan Cina bisa begitu produktif untuk dapat menghasilkan produk-produk berkualitas yang sangat diterima oleh pasar dunia. Negara-negara G-7 saja bahkan secara terang-terangan merangkul Cina yang saat ini menduduki peringkat keempat dalam perdagangan dunia, di bawah AS, Jerman dan Jepang untuk mau berbagi dan berbicara dalam forum mereka (Pikiran Rakyat, 2 Oktober 2004). Ternyata selain karena aliran modal asing dan teknologi tinggi, yang justru sangat menarik dari pengalaman Cina adalah besarnya peran Usaha Kecil dan Menegah (UKM) dan bisnis swasta daerah yang disebut sebagai Township and Village Enterprises (TVEs) dalam menopang kekuatan ekspornya.

Peran Penting TVEs Bagi Perekonomian Cina

Sumbangsih TVEs bagi perekonomian Cina memang tidak bisa disepelekan. TVEs yang semula merupakan perkembangan dari industri pedesaan yang digalakkan oleh pemerintah Cina. Jika pada tahun 1960 jumlahnya hanya sekitar 117 ribu, namun semenjak reformasi tahun 1978 jumlahnya mengalami pertumbuhan spektakuler menjadi 1,52 juta. Apabila dilihat dari sisi penyediaan lapangan kerja, TVEs di akhir tahun 1990-an telah menampung setengah dari tenaga kerja di pedesaan Cina.

Walaupun perkembangan TVEs ini sempat mengalami pasang surut dan tidak merata di seluruh wilayah Cina, namun secara rata-rata mengalami pertumbuhan yang sangat mengesankan. Produksi dari TVEs meningkat dengan rata-rata 22,9 persen pada periode 1978-1994. Secara nasional, output TVEs pada tahun 1994 mencapai 42% dari seluruh produksi nasional. Sedangkan untuk volume ekspor, TVEs memberikan kontribusi sebesar sepertiga dari volume total ekspor Cina pada tahun 1990-an (Pamuji, 2004).

Dilihat dari sisi perdagangan secara angka di atas kertas memang masih terlihat bahwa ekspor kita masih surplus dibanding Cina. Menurut data yang diperoleh dari Dubes RI di China, bahwa tepatnya sampai dengan 3 Agustus 2004 dilihat dari sudut pandang perdagangan luar negeri China, saat ini Indonesia merupakan negara tujuan ekspor urutan ke-17 dengan nilai 2,66 miliar dollar AS atau 1,03 persen dari total ekspor China yang mencapai nilai 258,21 miliar dollar AS. Indonesia juga menjadi negara asal impor ke-17 bagi China dengan nilai ekspor 3,44 miliar dollar AS (Osa, 2004).

Akan tetapi dalam kenyataan di lapangan tampak bahwa barang-barang produksi Cina terlihat di mana-mana. Kita tidak menutup mata bahwa banyak produk dari negeri panda tersebut yang masuk secara ilegal ke Indonesia sehingga tidak ikut tercatat secara resmi dalam laporan tersebut. Namun penjelasan dari Ketua Umum Kadin Indonesia Komite Cina, Sharif Cicip Sutardjo sangat masuk akal. Sebagaimana dikutip dari wawancara dengan Sinar Harapan dijelaskan bahwa ekspor Indonesia ke Cina memang besar namun sebagian besar merupakan bahan mentah dengan jumlah item yang sangat sedikit, kurang lebih hanya 15 item seperti migas, CPO, karet, kayu, dan lain-lain. Sedangkan dari Cina kita mengimpor ratusan item, mulai dari ampas, hasil pertanian, peralatan sampai ke motor dan mobil. Sebagian besar perusahaan yang menghasilkan produk-produk itu semua di Cina hanyalah industri swasta, UKM atau TVEs (www.sinarharapan.co.id/ ekonomi/industri/2003/1224/ind2.html).

Kenyataan ini sungguh berkebalikan dengan keadaan UKM kita yang kurang diberdayakan padahal memiliki potensi yang sangat besar. Jumlah UKM mencakup 99 % dari total seluruh industri di Indonesia dan menyerap sekitar 56 % dari jumlah total seluruh pekerja Indonesia (Rochman, 2003). Untuk itu sangat perlu kita lihat upaya apa saja yang telah dilakukan oleh pemerintah Cina untuk memajukan industri swasta khusunya UKM, mengingat UKM kita juga sebenarnya punya kemampuan. Hal ini terbukti pada saat krisis moneter justru sektor UKM yang mampu bertahan.

Usaha Pemerintah Cina yang Dirintis Sejak Lama

Apa yang sekarang Cina nikmati dari industrinya terutama TVEs merupakan hasil usaha bertahun-tahun. Pada tahun 1986 dipimpin oleh State Science and Technology Commission (SSTC) Cina memperkenalkan Torch Program yang bertujuan untuk mengembangkan penemuan-penemuan dan penelitian-penelitian oleh universitas dan lembaga riset pemerintah untuk keperluan komersialisasi. Hasil yang diperoleh kemudian ditindaklanjuti dengan membuat New Technology Enterprises (NTEs). Selanjutnya SSTC mengembangkan 52 high-tchnology zones yang serupa dengan research park di Amerika dengan bertumpu pada NTEs tadi (Mufson, 1998). Walaupun NTEs ini bersifat perusahaan bersakala besar namun kedepannya memiliki peran sebagai basis dalam pengembangan teknologi untuk industri-industri kecil dan menengah.

Pemerintah Cina kemudian masih dengan SSTC mengeluarkan kebijakan untuk mendukung TVEs yang disebut sebagai The Spark Plan. Kebijakan ini terdiri dari 3 kegiatan utama yang berangkaian. Pertama, memberikan pelatihan bagi 200.000 pemuda desa setiap tahunnya berupa satu atau dua teknik yang dapat diterapkan di daerahnya. Kegiatan kedua dilakukan dengan lembaga riset di tingkat pusat dan tingkat provinsi guna membangun peralatan teknologi yang siap pakai di pedesaan. Dan yang ketiga adalah dengan mendirikan 500 TVEs yang berkualitas sebagai pilot project (Pamuji, 2004).

Pemerintah Cina juga berusaha menempatkan diri sebagai pelayan dengan menyediakan segala kebutuhan yang diperlukan oleh industri. Mulai dari hal yang paling essensial dalam memulai sebuah usaha yaitu birokrasi perizinan yang mudah dan cepat, dimana dalam sebuah artikel dikatakan bahwa untuk memulai usaha di Cina hanya membutuhkan waktu tunggu selama 40 hari, bandingkan dengan Indonesia yang membutuhkan waktu 151 hari untuk mengurus perizinan usaha (www.suaramerdeka.com/harian/0503/01/eko07.htm).

Tidak ketinggalan infrastruktur penunjang untuk memacu ekspor yang disiapkan oleh pemerintah Cina secara serius. Bila pada tahun 1978 total panjang jalan raya di Cina hanya 89.200 km, maka pada tahun 2002 meningkat tajam menjadi 170.000 km. Untuk pelabuhan, setidaknya saat ini Cina memiliki 3.800 pelabuhan angkut, 300 di antaranya dapat menerima kapal berkapasitas 10.000 MT. Sementara untuk keperluan tenaga listrik pada tahun 2001 saja Cina telah mampu menyediakan sebesar 14,78 triliun kwh, dan saat ini telah dilakukan persiapan untuk membangun PLTA terbesar di dunia yang direncanakan sudah dapat digunakan pada tahun 2009 (Wangsa, 2005).

SDM Terbaik Sebagai Pengusaha

Dalam hal SDM untuk dunia usaha Cina juga tidak tanggung-tanggung dalam mengarahkan orang-orang terbaiknya untuk menjadi pengusaha yang handal. Sejak tahun 1990-an, Cina telah mengirimkan ribuan tenaga mudanya yang terbaik untuk belajar ke beberapa universitas terbaik di Amerika Serikat, seperti Harvard, Stanford, dan MIT. Di Harvard saja, Cina telah mengirimkan ribuan mahasiswanya untuk mempelajari sistem ekonomi terbuka dan kebijakan pemerintahan barat, walaupun Cina masih menerapkan sistim ekonomi yang relatif tertutup. Sebagai hasilnya, Cina saat ini telah memiliki jaringan perdagangan yang sangat mantap dengan Amerika, bahkan memperoleh status sebagai The Most Prefered Trading Partner (Kardono, 2001).

Pemerintah Cina juga membujuk para overseas Chinese scholars and professionals, terutama yang sedang dan pernah bekerja di pusat-pusat riset dan MNCs di bidang teknologi di seluruh penjuru dunia untuk mau pulang kampung dan membuka perusahaan baru di Cina. Mantan-mantan tenaga ahli dari Silicon Valley dan IBM ini misalnya, diharapkan nantinya juga akan dapat mempermudah pembukaan jaringan usaha dengan MNCs ex-employer lainnya yang tersebar di seluruh dunia (www.mail-archive.com/bhtv @paume.itb.ac.id/msg00042.html). Tentu saja bujukan itu dilakukan dengan iming-iming kemudahan dan fasilitas untuk memulai usaha, seperti insentif pajak, kemudahan dalam perizinan, dan suntikan modal.

Indonesia Harus Bisa Mengambil Pelajaran dari Cina

Kita sebaiknya bisa belajar dari kesuksesan Cina mengembangkan dunia usaha dan industrinya. Hal ini jauh lebih baik ketimbang hanya menggerutu melihat produk-produk Cina yang membanjiri pasar dalam negeri. Merajalelanya produk-produk Cina dengan harga yang murah dan berkualitas harus dilihat tidak hanya sebagai ancaman, namun juga sebagai pemicu agar Indonesia bisa bergerak ke arah perbaikan. Pada kesempatan ini penulis dengan keterbatasan kapasitas yang dimiliki akan mencoba merumuskan beberapa masukan berupa langkah yang sebaiknya kita tempuh berkaitan dengan apa yang telah dilakukan dan diraih oleh Cina.

Pertama, yaitu kita harus mencoba mengkaji kebijakan-kebijakan Cina dalam perekonomian khususnya dalam memajukan dunia usahanya. Setelah itu dirumuskan manakah yang bisa dan tepat untuk diterapkan di Indonesia. Hal ini mengingat keadaan , latar belakang, dan budaya Cina yang tidak sama dengan Indonesia.

Langkah kedua yang bisa ditempuh adalah dengan mempererat hubungan kerja sama dengan Cina, tidak saja dalam ekonomi namun juga pada bidang-bidang lainnya yang dianggap penting. Dalam bidang ekonomi dan keamanan misalnya dengan membuat nota kesepahaman tentang kerjasama dalam penanganan penyelundupan di kedua negara. Bentuk kerjasama yang lain misalnya adalah dengan melakukan sinergi industri antara kedua negara. Seperti yang sudah berjalan pada industri lilin antara Indonesia dan Cina, dimana terdapat kesepakatn tidak tertulis dalam pembagian fokus industri, dengan pembagian industri hulu dan menegah yang ditangani Indonesia sedangkan hilir dipegang oleh Cina.

Ketiga, adalah dengan menciptakan budaya wirausaha di Indonesia. Hal ini bisa dilakukan dengan meniru langkah pemerintah Cina dengan kebijakan-kebijakannya dalam merangsang munculnya para pengusaha-pengusaha baru. Akan tetapi apabila dilihat lebih cermat, sebenarnya yang menjadi masalah utama di Indonesia terletak pada paradigma berpikir masyarakatnya. Di Indonesia hampir tidak ada kita kita lihat keinginan yang besar dari kalangan terdidik untuk menjadi pengusaha.

Penyebabnya bisa jadi karena malas dan takut mengambil resiko untuk berjuang dari nol apabila menjadi pengusaha. Masyarakat kita juga pada umumnya menaruh simpati yang lebih besar pada profesi-profesi yang secara praktis terlihat ekslusif, seperti dokter, akuntan, dan pengacara dibanding dengan wirausaha. Keadaan ini lebih diperburuk dengan sistem pendidikan kita yang cenderung mengabaikan pelajaran tentang kewirausahaan dan kepemimpinan. Hal ini sangat berkebalikan dengan budaya wirausaha yang sangat kental dari penduduk Cina.Langkah keempat adalah dengan memaksimalkan peran akademisi yaitu peneliti untuk menunjang dunia usaha. Selama ini diantara banyak kendala dunia usaha kita terutama UKM, yang paling besar adalah dari sisi teknologi dan metode yang tidak efisien dan jauh tertinggal dari pesaingnya di luar negeri. Untuk itu kiranya para peneliti mau turun dari menara gading untuk mau membantu penelitian industri-industri di Indonesia. Sudah saatnya penelitian yang dilakukan bisa lebih membumi sehingga dapat juga dinikmati oleh industri-industri kecil dan menengah.

Penutup

Demikianlah pembahasan yang dilakukan oleh penulis berkaitan dengan iklim usaha di Cina yang merupakan salah satu unsur utama pendorong perekonomian Cina hingga bisa menjelma menjadi raksasa perekonomian dunia. Walaupun tidak semuanya pas diterapkan di Indonesia, namun setidaknya beberapa langkah-langkah Cina yang telah terbukti berhasil tidak ada salahnya untuk diikuti dan dipraktekkan di Indonesia.

Seluruh komponen mulai dari pemerintah, akademisi, peneliti, pengusaha, dan warga masyarakat umum harus ikut serta memikirkan dan bekerja keras mencari solusi terbaik untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dialami negara kita tercinta ini. Setiap pihak hendaknya berusaha memberikan yang terbaik sesuai dengan bidang dan kemampuan yang dimilikinya masing-masing. Akhir kata penulis berharap tulisan yang sederhana ini dapat berguna dan bermamfaat. (MuhammadSubair)



Daftar Pustaka

* 1. Kardono, 2001,Fokus PT. Dirgantara Indonesia Dalam Industri Penerbangan Untuk Meraih Keunggulan, Available, http://www.indonesian-aerospace.com/book/d16.htm, 23 Maret 2001
* 2. Mufson S., 1998, In China, professor leads a high-tech revolution, Artikel Koran Washington Post, Washington ,10 Juni 1998
* 3. Osa S., 2004, Hubungan Perdagangan China-Indonesia Pantas Dipelihara, Artikel Koran Kompas, 18 Agustus 2004
* 4. Pamuji N., 2004, Diplomasi Cina, Indonesia dan Presiden Baru, Available, http://www.mail-archive.com/ ekonomi-nasional@yahoogroups.com/ msg00156.html, 30 September 2004
* 5. Rochman, N. T., 2003, Memperkuat Industri Rakyat : Mendewasakan SDM Unggul, Berita IPTEK LIPI, 5 November
* 6. Sarnianto P., 2004, Sang Naga Merah yang Kian Tak Tertahankan, Artikel Majalah Swa, Jakarta, 9 Desember 2004
* 7. Sinar Harapan, 2003, Pemain Utama Cina Segera Masuk ke Indonesia, Available, www.sinarharapan.co.id/ekonomi/industri/2003/1224/ind2.html
* 8. Suara Merdeka, 2001, Birokrasi Panjang Penyebab PMA Turun, Available, http://www.suaramerdeka.com/harian/0503/01/eko07.htm, 1 Maret 2005
* 9. Suyitno S., 2003, Belajar Dari Negara Cina (Creating World-Class New-Start-up Entrepreneur), Available, http://www.mail-archive.com/bhtv @paume.itb.ac.id/msg00042.html, Juli 2003
* 10. Wangsa L. M. S., 2005, Membangun Infrastruktur Ala Cina, Available, http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=103866, 25 Februari 2005


sumber : http://bair.web.ugm.ac.id/Rahasia_Dibalik_Kesuksesan_Produk_Cina.htm

[+/-] Selengkapnya...

Template by : Kendhin x-template.blogspot.com