Custom Search
Tampilkan postingan dengan label keluarga Bahagia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga Bahagia. Tampilkan semua postingan

Keluarga - Dalam Keadaan Darurat!




Smashed  wedding picture


Keluarga—Dalam Keadaan Darurat!


”DAN mereka pun hidup bahagia selama-lamanya.” Akhir sebuah dongeng seperti itu semakin jarang didapati dalam keluarga-keluarga dewasa ini. Ikrar perkawinan untuk mengasihi satu sama lain ’di saat senang atau susah sepanjang hidup mereka berdua’ sering kali hanyalah formalitas belaka. Kemungkinan untuk memiliki keluarga yang bahagia tampak seperti permainan judi dengan segala untung-untungannya.

Antara tahun 1960 dan 1990, angka perceraian meningkat lebih dari dua kali lipat di sebagian besar negara industri Barat. Di beberapa negeri, angka ini meningkat empat kali lipat. Misalnya, setiap tahun sekitar 35.000 perkawinan disahkan di Swedia, dan sekitar setengahnya gagal, melibatkan lebih dari 45.000 anak-anak. Tingkat perpisahan di kalangan pasangan yang hidup bersama tanpa menikah bahkan lebih tinggi, mempengaruhi puluhan ribu anak-anak lagi. Trend serupa bermunculan di negara-negara di seluruh dunia, sebagaimana dapat terlihat dari kotak pada halaman 5.

Memang, keluarga berantakan dan perkawinan yang berakhir bukanlah hal baru dalam sejarah. Kaidah Hammurabi dari abad ke-18 SM mencakup hukum yang memperbolehkan perceraian di Babilon. Bahkan Hukum Musa, yang ditetapkan pada abad ke-16 SM, mengizinkan perceraian di Israel. (Ulangan 24:1) Akan tetapi, ikatan keluarga belum pernah serapuh pada abad ke-20 ini. Lebih dari satu dekade yang lalu, seorang kolumnis surat kabar menulis, ”Lima puluh tahun mendatang, keluarga dalam pengertian tradisional bahkan mungkin sudah tidak ada lagi. Kemungkinan, yang ada hanyalah berbagai jenis kelompok manusia sebagai pengganti keluarga.” Dan sejak saat itu kecenderungannya tampak meneguhkan gagasan sang kolumnis. Sedemikian cepatnya lembaga keluarga merosot sehingga pertanyaan ”Apakah keluarga masih akan bertahan?” menjadi semakin relevan.

Mengapa sedemikian sukar bagi begitu banyak pasangan untuk berpaut satu sama lain dan mempertahankan keutuhan keluarga? Apa rahasia dari orang-orang yang telah berpaut bersama seumur hidup, dengan bahagia merayakan perkawinan perak dan emas mereka? Secara kebetulan, pada tahun 1983 dilaporkan bahwa seorang pria dan seorang wanita di bekas republik Soviet, Azerbaijan, yang merayakan hari jadi perkawinan mereka yang ke-100—masing-masing pada usia 126 dan 116 tahun.

Apa Ancamannya?

Di banyak negeri, beberapa dasar untuk perceraian yang sah adalah perzinaan, kekejaman mental atau fisik, pengabaian keluarga, alkoholisme, impotensi, ketidakwarasan, bigami, dan kecanduan obat bius. Akan tetapi, penyebab yang lebih umum adalah bahwa sikap fundamental terhadap perkawinan dan kehidupan keluarga tradisional telah berubah secara radikal, khususnya selama beberapa dekade terakhir ini. Respek terhadap lembaga yang sejak lama dianggap sakral ini telah terkikis. Para produser yang tamak di bidang musik, film, opera sabun di TV, dan bahan bacaan populer telah mengagung-agungkan apa yang disebut kebebasan seksual, perbuatan amoral, tingkah laku bebas, dan gaya hidup yang berpusat pada diri sendiri. Mereka telah mempromosikan suatu kebudayaan yang mencemari pikiran dan hati dari orang-orang tua maupun muda.

Sebuah jajak pendapat pada tahun 1996 memperlihatkan bahwa 22 persen orang Amerika mengatakan bahwa perselingkuhan adakalanya baik untuk perkawinan. Sebuah edisi khusus salah satu surat kabar terbesar di Swedia, Aftonbladet, mendesak para wanita untuk bercerai karena ”hasilnya hanya akan lebih baik”. Beberapa psikolog dan antropolog populer bahkan telah berspekulasi bahwa pria ”diprogram” oleh evolusi untuk berganti-ganti pasangan setiap beberapa tahun sekali. Dengan kata lain, mereka memberi kesan bahwa perselingkuhan dan perceraian adalah wajar. Beberapa bahkan berpendapat bahwa perceraian orang-tua bermanfaat bagi anak-anak, mempersiapkan mereka untuk mengatasi perceraian mereka sendiri suatu hari nanti!

Banyak anak muda tidak lagi berkeinginan menjalani kehidupan keluarga tradisional, yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak. ”Tidak terbayangkan oleh saya untuk menjalani seluruh kehidupan saya bersama mitra yang sama”, adalah pandangan yang populer. ”Perkawinan itu bagaikan hari Natal, cuma dongeng. Saya sama sekali tidak mempercayainya,” kata seorang pemuda Denmark berusia 18 tahun. ”Saya rasa, buat apa susah-susah hidup bersama [laki-laki] dan mencucikan kaus kaki mereka,” demikian Noreen Byrne dari Dewan Wanita Nasional di Irlandia menyatakan. ”Lebih baik jalan-jalan dan bersenang-senang bersama mereka . . . Banyak wanita yang memutuskan bahwa mereka tidak membutuhkan laki-laki sebagai tumpuan hidup.”

Rumah Tangga dengan Orang-Tua Tunggal Sedang Bertambah

Di seluruh Eropa, sikap ini turut menyebabkan peningkatan yang pesat dalam jumlah ibu tak bersuami. Sebagian dari antara orang-tua tunggal ini adalah remaja-remaja yang merasa bahwa kehamilan yang tidak direncanakan bukanlah suatu kekeliruan. Beberapa dari mereka adalah wanita-wanita yang ingin mengasuh anak mereka seorang diri. Sebagian besar adalah ibu-ibu yang hidup bersama ayah dari anak-anaknya selama beberapa waktu, tanpa rencana apa pun untuk menikahi pria tersebut. Tahun lalu, majalah Newsweek menerbitkan liputan utama mengenai pertanyaan ”Apakah Perkawinan Sudah Mati?” Liputan itu menyatakan bahwa persentase anak di luar nikah meningkat pesat di Eropa dan tampaknya tidak seorang pun yang peduli. Swedia mungkin berada di urutan pertama, setengah dari semua bayi di sana lahir di luar nikah. Di Denmark dan Norwegia jumlahnya mendekati setengah, dan di Prancis dan Inggris, sekitar 1 dari 3 bayi.

Di Amerika Serikat, keluarga-keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu telah menurun secara dramatis dalam beberapa dekade terakhir. Sebuah laporan mengatakan, ”Pada tahun 1960, . . . 9 persen dari semua anak hidup dalam rumah dengan orang-tua tunggal. Pada tahun 1990, jumlah itu telah melambung hingga 25 persen. Sekarang ini, 27,1 persen dari semua anak Amerika lahir dalam rumah dengan orang-tua tunggal, jumlah yang sedang meningkat. . . . Sejak tahun 1970, jumlah keluarga dengan orang-tua tunggal telah meningkat lebih dari dua kali lipat. Dewasa ini, keluarga tradisional sedemikian terancamnya sehingga itu mungkin berada di ambang kepunahan, kata beberapa peneliti.”

Di negeri-negeri BARAT telah banyak kehilangan wewenang moralnya, keluarga dengan orang-tua tunggal sedang bertambah. Kurang dari setengah rumah tangga Italia yang terdiri dari ibu, ayah, serta anak-anak, dan keluarga tradisional sedang digantikan oleh pasangan tanpa anak dan rumah tangga dengan orang-tua tunggal.

Sistem jaminan sosial di beberapa negeri sebenarnya malah menganjurkan orang-orang untuk tidak menikah. Ibu tak bersuami yang menerima bantuan sosial akan kehilangan bantuan itu jika mereka menikah. Para ibu tak bersuami di Denmark mendapat subsidi tambahan untuk perawatan anak, dan dalam beberapa kelompok masyarakat, para ibu di bawah umur mendapatkan uang tunai ekstra dan tidak perlu membayar uang sewa tempat tinggal. Jadi, ini ada sangkut-pautnya dengan uang. Alf B. Svensson menyatakan bahwa satu perceraian di Swedia menguras antara 250 ribu dan 375 ribu dolar AS dari para pembayar pajak dalam bentuk subsidi, penggantian ongkos tempat tinggal, dan bantuan sosial.

Kaum Rohaniawan tampaknya tidak banyak berbuat atau sama sekali tidak berupaya membalikkan trend yang menghancurkan di antara keluarga-keluarga ini. Banyak pemimpin agama bergulat melawan krisis keluarga mereka sendiri, sehingga mereka merasa tidak sanggup membantu orang lain. Beberapa bahkan tampaknya menganjurkan perceraian. Aftonbladet terbitan 15 April 1996 melaporkan bahwa rohaniawan Steven Allend dari Bradford, Inggris, menyusun suatu upacara resmi perceraian, yang ia sarankan untuk difungsikan sebagai upacara resmi di semua gereja Inggris. ”Ini adalah suatu jasa penyembuhan untuk membantu seseorang menerima dan menyesuaikan diri dengan apa yang telah menimpanya. Ini membantu mereka sadar bahwa Allah masih mengasihi mereka dan melepaskan mereka dari perasaan sakit itu.”

Jadi, menuju ke manakah lembaga perkawinan? Adakah harapan bagi lembaga perkawinan untuk bertahan? Dapatkah keluarga-keluarga secara individu

memelihara persatuan mereka di bawah ancaman yang sedemikian besar? Silakan perhatikan artikel berikut.



PERBANDINGAN ANTARA PERKAWINAN DAN PERCERAIAN SETIAP TAHUN DI BEBERAPA NEGERI



NEGERI TAHUN PERKAWINAN PERCERAIAN

Amerika Serikat 1993 2.334.000 1.187.000
Australia 1993 113.255 48.324
Denmark 1993 31.507 12.991
Estonia 1993 7.745 5.757
Federasi Rusia 1993 1.106.723 663.282
Inggris 1992 356.013 174.717
Jepang 1993 792.658 188.297
Jerman 1993 442.605 156.425
Kanada 1992 164.573 77.031
Kuba 1992 191.837 63.432
Maladewa 1991 4.065 2.659
Norwegia 1993 19.464 10.943
Prancis 1991 280.175 108.086
Puerto Riko 1992 34.222 14.227
Republik Ceko 1993 66.033 30.227
Swedia 1993 34.005 21.673


(Berdasarkan 1994 Demographic Yearbook, Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York 1996


Sumber :
Dikutip & diedit Appeared in The Watchtower April 1, 1998Watchtower April 1, 1998
Copyright © 2006 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania. All rights reserved.

[+/-] Selengkapnya...

Saling Mencintai = Menerima Ketidaksempurnaan

Makna tersirat di balik kekurangan pasangan kita.


SALING MENCINTAI = MENERIMA KETIDAKSEMPURNAAN

Kondisi stres yang sedang kita alami, baik mengenai tekanan pekerjaan maupun masalah keluarga, cenderung membuat kita menjadi orang yang lebih cepat marah dan mudah emosi. Di dalam berhubungan, terkadang perilaku tersebut bisa menyebabkan perasaan tersinggung atau bahkan pertengkaran dengan pasangan kita. Oleh sebab itu, mari redam hawa peperangan dengan mengerti sedikit siapa dan bagaimanakah pasangan kita.

Tidak ada orang yang sempurna. Kita semua pasti memiliki kekurangannya masing-masing, begitu juga dengan pasangan kita. Dengan mencoba belajar untuk bisa melihat mereka dari sudut pandang yang lebih rasional atau lebih dimengerti, mungkin bisa menjadi kado hari Valentine terbaik yang bisa diberikan kepada pasangan kita. Menurut studi yang dilakukan di University of Washington, Neil Jacobson, PhD, psikolog dan pendiri integrative behavioral couples therapy, menyatakan perilaku saling menerima antar pasangan tidak hanya akan meningkatkan keintiman dan kepuasan dalam berhubungan saja, tapi juga bisa menghindari kita terjadinya perselingkuhan. Sebab dengan sikap saling menerima, maka kedua belah pihak tidak akan merasakan adanya tekanan satu sama lain.

# Sembrono. Jika seorang pria mampu membangun rumah, menerbangkan pesawat, memperbaiki mobil yang rusak, tapi banyak wanita yang merasa heran, mengapa para suami tidak bisa membersihkan cucian piring? Atau sekedar mengganti tisu di toilet yang sudah habis? Sebenarnya, kita tidak perlu seorang profesor untuk mengetahui alasan mengapa wanita lebih condong bisa melakukan pekerjaan rumah lebih banyak dibading yang para kaum pria bisa kerjakan.

Sebenarnya, faktor keengganan suami pasangan membantu kita adalah karena mereka memiliki rasa takut lebih besar akan mengganggu pekerjaan kita dibanding kekacauan yang bisa dan akan mereka perbuat.

Dibanding marah-marah, sebaiknya apa yang bisa kita lakukan? Gunakanlah komunikasi yang efektif, yaitu komunikasi yang tidak hanya sebatas penyampaian pesan saja tapi harus disertakan dengan kontak verbal, seperti kontak mata dan penggunaan intonasi yang tepat, atau kita bisa membubuhkan sedikit humor. Jika suami tampak tidak peduli sama sekali dengan debu-debu yang menempel di perabot rumah, maka pahamilah bahwa memang kaum pria tidak didesain untuk bisa memperhatikan hal-hal yang kecil seperti kaum perempuan.

# Tidak banyak bicara. Biasanya, wanita memang lebih terbuka dan cerewet dibanding kaum pria. Penelitian yang dilakukan Ronald F.Levant, EdD, dari University of Akron, menyatakan sebenarnya baik lelaki maupun perempuan dilahirkan dengan kapasitas berperilaku ekspresif yang sama, namun yang membuatnya berbeda adalah cara mensosialisasikannya saja.

Orang tua akan lebih cenderung mengekspos jangkauan emosi mereka yang lebih luas pada anak perempuannya dibanding anak lelaki, dan orang tua juga bekerja keras untuk bisa mengantur perubahan emosi dari anak-anak mereka. Mungkin saja, pasangan hidup kita merupakan tipe lelaki pendiam dikarenakan sejak kecil memang mereka tidak diajarkan untuk mengekspresikan emosi mereka. Jadi jangan pernah menginterpretasikan “diamnya” pasangan sebagai sinyal bahwa mereka sudah mulai bosan dan tidak lagi tertarik dengan kita. Seharusnya, jika kita percaya akan besarnya cinta pasangan pada kita, maka kita bisa melihat bagaimana pasangan mengkomunikasikan bentuk cinta mereka dengan cara yang non-verbal.

# Terlalu sibuk. Memiliki pasangan yang bekerja 7/24 jam memang kadang membuat kita kesal, marah dan tidak dihargai. Tapi cobalah kita selami satu kata, yaitu pengampunan. Dimana kita bisa menerima dan mengampuni kesalahan orang lain serta mengubah pengampunan tersebut menjadi rasa sayang. Ajaklah pasangan kita untuk berbicara dari hati ke hati, ketimbang hanya menyalahkan dan mengeluarkan kalimat makian. Berikan rasa hormat dan dukungan kepada pasangan kita sehingga mereka bisa merasakan kalau kita selalu ada untuk mendukung dan memberikan perhatian kepada mereka. Dan pada akhirnya, mereka dengan sendirinya akan merubah jadwal kerja dan ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan kita.

Berusaha untuk belajar mencintai kekurangan pasangan kita bukan berarti mereka akan merubah perilaku mereka. Tapi, yang pasti kita sendiri akan merasakan perubahannya, seperti peningkatan rasa percaya, intimasi, dan rasa sayang kepada pasangan kita. Coba pada valentine kali ini :

1. Tuliskan surat kepada pasangan kita yang berisi apresiasi kita untuk segala bentuk empati, keingintahuan, dan kebaikan yang dia tunjukkan melalui kekurangan yang ada padanya.

2. Berikan pasangan kita kado spesial untuk merayakan perbedaan kita. Contoh, jika pasangan kita suka menikmati konser dengan hingar bingarnya dan kita tidak, coba belilah 2 tiket konser untuk kita tonton bersama. Tunjukkan betapa besarnya cinta kita dengan menikmati konser tersebut karena hal itu yang akan membuat pasangan kita bahagia.(Astrid Anastasia)



(Sumber : www.preventionindonesia.com)

[+/-] Selengkapnya...

'Jadilah Berhikmat Di Masa Depanmu'



[Sumber : Ilustrasi/Google Image]




'Jadilah Berhikmat Di Masa Depanmu'
.....................................................................................................................



"Mayoritas manusia menggunakan tahun-tahun awal kehidupan mereka sedemikian rupa sehingga akhir kehidupan mereka sengsara." Begitulah kata Jean de La Bruyere, seorang esais Prancis abad ke-17. Memang, orang muda mungkin bimbang, merasakan ketidakpuasan dan penyesalan. Sementara itu, anak muda yang keras kepala mungkin berkukuh melakukan hal yang tidak bijaksana, sehingga merampas sukacita dalam kehidupan kelak. Kedua-duanya, yaitu yang tidak melakukan yang benar maupun yang melakukan kejahatan, dapat membawa kepada kesengsaraan yang cukup besar.

bagaimana akhir demikian dapat dihindari? Dalam memperingatkan tentang kebimbangan masa muda, sebuah referensi menasihati kaum muda, "Ingatlah Penciptamu yang Agung pada hari-hari masa mudamu, sebelum hari-hari yang menyebabkan malapetaka mulai datang, atau tiba tahun-tahun ketika engkau akan mengatakan, 'Aku tidak memperoleh kesenangan di dalamnya." Jika Saudara adalah seorang anak muda, ambillah langkah yang penuh keyakinan untuk belajar tentang 'Pencipta Saudara yang Agung' selagi muda.

kalau begitu, bagaimana membantu kaum muda untuk menghindari kebodohan masa muda? Sebuah Referensi mengatakan, "Dengarkanlah nasihat dan terimalah disiplin agar engkau menjadi berhikmat di masa depanmu. Referensi itu juga dengan jelas memperlihatkan bahwa penolakan terhadap hikmat ilahi sebagai akibat dari pengabaian atau pembangkangan dalam diri anak muda, atau berapa pun usianya, akan membawa konsekuensi yang menyakitkan. Sebaliknya, mengindahkan petunjuk ilahi menghasilkan "panjang umur dan tahun-tahun kehidupan serta kedamaian", suatu kehidupan yang memuaskan dan lengkap.



[Sumber : Atas kebaikan "Watchtower" w02-IN 10/15, h. 32]




[+/-] Selengkapnya...

"Ampuni Satu Sama Lain Dengan lapang Hati"




[Sumber Gambar/photo : Google Image]



"Ampuni Satu Sama Lain Dengan Lapang Hati"



Percayakah Saudara bahwa Allah kita telah mengampuni dosa-dosa Saudara? Di Amerika Serikat, tampaknya kebanyakan orang dewasa percaya. Dr. Loren Toussaint, penulis utama sebuah penelitian yang diadakan di Institut Riset Sosial dari University of Michigan, melaporkan bahwa dari 1.423 orang Amerika yang ditanya, sekitar 80 persen orang dewasa berusia di atas 45 tahun mengatakan bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa mereka.

Namun yang menarik adalah bahwa hanya 57 persen dari yang ditanya mengatakan bahwa mereka mengampuni orang lain. Statistik ini mengingatkan kita pada kata-kata dalam sebuah referensi, "Jika kamu mengampuni orang-orang atas pelanggaran mereka, Allah juga akan mengampuni kamu; sedangkan jika kamu tidak mengampuni orang-orang atas pelanggaran mereka, Allah juga tidak akan mengampuni pelanggaranmu." Ya, pengampunan Allah terhadap dosa-dosa kita sebagian bergantung pada kesediaan kita untuk mengampuni orang lain.

Sebuah referensi mengatakan: "Teruslah bersabar seorang terhadap yang lain dan ampuni satu sama lain dengan lapang hati jika ada yang mempunyai alasan untuk mengeluh sehubungan dengan orang lain. Sama seperti Allah dengan lapang hati mengampuni kamu, lakukan itu juga." Memang, hal ini tidak selalu mudah dilakukan. Misalnya, sewaktu seseorang mengucapkan kata-kata yang kasar dan tanpa dipikir kepada kita, mungkin sangat sulit untuk mengampuni orang itu.

Namun, ada banyak manfaatnya mengampuni orang lain. Dr David R. Williams, seorang sosiolog, mengatakan tentang risetnya, "Kami mendapati hubungan yang sangat kuat antara mengampuni orang lain dan kesehatan mental di kalangan orang-orang Amerika yang berusia setengah baya dan yang lebih tua." Hal ini selaras dengan kata-kata seorang Raja Sulaiman (Salomo) yang bijaksana, yang sekitar 3.000 tahun yang lalu menulis, "Hati yang tenang adalah kehidupan bagi tubuh, tetapi kecemburuan adalah kebusukan bagi tulang." Karena semangat mengampuni menghasilkan hubungan yang baik dengan Allah dan dengan sesama kita, kita memiliki alasan yang baik untuk mudah mengampuni satu sama lain dengan lapang hati.



[Sumber : Diedit, atas kebaikan "Watchtower", w02-IN 1/9, h. 32.]




Komentar :

Artikel di atas berdasarkan sudut pandang penerbit nya, namun demikian informasinya bersifat universal. Dalam dunia yang serba cepat, penuh persaingan di berbagai bidang tentu saja perlu pengorbanan dari diri Anda sendiri untuk memulainya.

Percayalah, hal ini akan mendatangkan berkat dan kesehatan yg lebih baik bagi Anda dan kita semua.



[+/-] Selengkapnya...

Kita Semua Butuh Pujian


[Sumber gambar/photo : Google Image]



Kita Semua Butuh
Pujian



Itulah hari yang menyenangkan bagi si gadis kecil. Kendati ia perlu dikoreksi pada waktu-waktu lain, khususnya pada hari ini, ia berperilaku amat baik. Akan tetapi, pada malam itu, setelah si gadis kecil ditidurkan, ibunya mendengar ia menangis. Sewaktu ditanya mengapa ia sedih, dengan tersedu sedan si gadis kecil mengatakan, "Hari ini, saya sudah menjadi anak yang baik, ' kan?"

Pertanyaan itu bagaikan sembilu yang menyayat hati sang ibu. Ia selalu cepat mengoreksi anak gadisnya. Tetapi sekarang kendati mengetahui betapa keras upaya gadis kecilnya untuk bertingkah laku baik, sang ibu malah lalai mengucapkan pujian sepatah kata pun.

Gadis kecil bukan satu-satunya yang membutuhkan pujian dan penenteraman hati. Kita semua membutuhkannya-dalam kadar yang sama seperti kita membutuhkan nasihat dan koreksi.

Bagaimana perasaan kita sewaktu kita menerima pujian yang sepenuh hati? Bukankah hal itu menghangatkan hati kita dan mencerahkan hari kita? Kemungkinan besar, kita merasa bahwa ada yang memperhatikan, ada yang peduli. Hal itu meyakinkan kita bahwa apa yang kita lakukan tidak sia-sia, dan ini memotivasi kita untuk mengupayakannya lagi di waktu lain. Tidaklah mengherankan bahwa pujian yang tulus acap kali mendekatkan kita kepada pribadi yang meluangkan waktu untuk mengatakan sesuatu yang membina. [dari sebuah Referensi]

Dalam perumpamaan tentang talenta, sang majikan dengan hangat memuji masing-masing dari dua budak yang setia, dengan mengatakan, "Baik sekali, budak yang baik dan setia!" Alangkah menghangatkan hati! Kendati mereka memiliki kesanggupan dan pencapaian yang sangat berbeda, mereka mendapat pujian yang sama. [dari sebuah Referensi]

Oleh karena itu, mari kita ingat sang ibu dari gadis kecil itu. Kita tidak perlu menunggu sampai orang menangis dahulu baru kita beri mereka pujian. Sebaliknya, kita dapat memastikan untuk mencari kesempatan memuji. Ya, kita mempunyai alasan yang bagus untuk memberikan pujian yang tulus pada setiap kesepatan.




[Sumber : Diedit/atas kebaikan Watchtower, w02-IN 11/1, h. 32]




Komentar :

Memberikan pujian yang tulus ini berlaku dalam berbagai bidang dan secara universal ini sesuatu yang dipujikan, dan bahkan riset ilmuwan juga memastikan bahwa hal ini sangat bermanfaat bagi kesehatan.

Jika Anda bekerja di sebuah perusahaan tentu tidak asing dengan penghargaan, piagam dan kata-kata pujian dari majikan kita, demikian pula dalam rumah tangga antara sang suami dan istri saling memberikan pujian dan perhatian yg tulus.

Oleh sebab itu janganlah pelit untuk memuji apabila itu memang patut diberikan dan Anda mampu untuk mengucapkan hal itu, apalagi Anda adalah seorang yang memiliki kapasitas untuk itu!



[+/-] Selengkapnya...

Pengakuan Istri : Film Porno Merusak Rumah Tanggaku

Pengakuan Istri : Film Porno Merusak Rumah Tanggaku


Awal mula berantakannya rumah tanggaku dimulai dari hoby baru mas Dedi. Entahlah, pengaruh dari mana yang membuat mas Dedi hobi mengkoleksi dan juga menonton film-film porno di kamar kami. Pada awalnya, hobi menonton film tersebut tidak membuatku terganggu karena aku rasa itu wajar sebagai pria dewasa.

Pembaca, satu kalipun tidak pernah terbayang di benakku bahwa rumah tangga yang telah kami bina selama 15 thn itu akan hancur lantaran hobi mas Dedi mengkoleksi dan menonton film porno. 12 Posisi seks – Sebelum menikah dulu, aku selalu membayangkan kehidupan pernikahan yang romantis dan bahagia. Tetapi kebahagiaan itu hanya aku rasakan di awal pernikahan kami saja, sirna setelah suamiku menjadi seorang maniak film porno.

Pernikahan kami dilandasi oleh saling suka dan rasa saling mencintai. Pada awalnya kehidupan kami sangat bahagia dan mas Dedi adalah seorang pria dan suami yang baik, Kebahagiaan kami menjadi lengkap setelah kami dikaruniai seorang putra, kami beri nama dia Joko. Sungguh Joko seorang anak yang cakep dan cerdas.

Sejak ada Joko, kehidupan kami semakin ceria dan penuh canda tawa. Rasa-rasanya, aku adalah wanita paling bahagia di dunia ini. Namun ternyata kebahagiaan itu hanya sesaat, keadaan berubah dan semuanya menjadi sirna.

Awal mula rusaknya biduk rumah tangga kami dimulai dari hoby baru mas Dedi, Entahlah, dari mana dia menemukan hobinya itu tetapi saat itu kamar kami tak ubahnya menjadi tempat rental vcd porno. Beragam film porno dari artis barat, asia bahkan adegan seks dari Indonesia pun ada di kamar kami. Yah mas Dedi menjadi seorang maniak film-film porno. Koleksinya mencapai ribuan keping vcd porno. Disitulah titik awal kehancuran rumah tangga kami. Film tersebut pada awalnya tidak membuatku keberatan, karena aku pikir hal itu wajar sebagai seorang seorang pria dewasa.

Masalah paling berat yang kurasa adalah ketika mas Dedi mulai melibatkan aku dalam fantasinya. Setiap akan berhubungan seks, mas Dedi selalu memutar film porno dan mengajakku menonton berdua. Dan usai film, mas Dedi pasti akan mengajakku melakukan adegan-adegan dalam film tersebut. Pada awalnya aku berpikir tidak apa karena kuanggap itu adalah variasi seks dan bahkan aku anggap itu sesuatu yang positif dan bisa membuat hubungan kami menjadi bergairah kembali.

Dari hari ke hari, aku merasakan kalau mas Dedi semakin aneh dan film-film itu telah merasuki pikirannya. Pemintaannya semakin aneh dan semakin berat kulakukan, bahkan tergolong berbahaya bagiku. mas Dedi tidak memberiku kesempatan berbicara, dia selalu marah ketika melihatku akan menolak permintaannya.

Dan peristiwa demi peristiwa aku lalui. mas Dedi tidak hanya marah tetapi juga mulai memukul dan mengancam tidak akan memberi nafkah ke aku dan anakku bila aku tidak memenuhi fantasi seksnya. Aku hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa, kerjaku setiap hari mengurus suami dan anak, aku tidak memiliki pekerjaan luar untuk menambah penghasilan. Jadinya aku hanya bisa pasrah saja terhadap ancaman mas Dedi. Dan mas Dedi menjadi semakin gila setelah mengetahui kepasrahan dan ketergantungan ekonomiku kepadanya. Dia memanfaatkan keadaan dan posisiku ini terutama disaat akan berhubungan seks.

Hari demi hari, mas Dedi tidak memperlakukanku sebagai manusia lagi. Entahlah sudah berapa banyak benda asing yang dia masukkan ke dalam vaginaku. Sakitnya sungguh tidak tertahankan, sakit fisik dan juga sakit batin ini. mas Dedi sepertinya tidak perduli, dia seolah menemukan kesengan baru dari penderitaanku ini.

Yang membuatku malu adalah ternyata mas Dedi menceritakan apa yang dia lakukan saat berhubungan seksual kepada teman dan tetangga kami. Hatiku bertambah hancur, malu yang mendera saat bertemu dengan tetangga dan teman teman mas Dedi.

Pernah aku mengajaknya bicara baik-baik, mencoba mengutarakan keberatakanku untuk berhenti menceritakan persoalan ini kepada orang lain. Tapi mas Dedi jadi marah-marah. Aku hanya menangis, segala angan dan impian tentang pernikahan yang romantis dan bahagia menjadi sirna.

Sikap sabarku menjadi luluh ketika kutahu mas Dedi membina hubungan dengan wanita lain. Aku yang sudah sabar dengan kelakuannya selama ini akhirnya luluh, rasa dikhianati membuatku marah. Pengorbananku sama sekali tidak dihargainya.

Akhirnya aku menuntut cerai. Awalnya aku curhat ke seorang teman, dari dia aku berkonsultasi ke LBH APIK di jakarta. Kuceritakan semua masalah keluargaku dan pihak LBH memberiku banyak masukan. Aku juga disarankan untuk melaporan mas Dedi ke polisi atas kekerasan fisik yang dilakukannya.

Pilihan dan masukan dari LBH APIK aku bawa pulang dan aku pikirkan. Sampai saat ini, aku belum tahu pilihan mana yang ahrus aku ambil. Yang aku pikirkan adalah ekonomiku, aku sadar kalau aku sangat tergantung kepada mas Dedi. Aku tidak ingin anakku, Joko menjadi korban jika aku dan suamiku harus berpisah. Aku hanya bisa berdoa dan berharap agar mas Dedi bisa berubah.


Sumber : konseling.net


Koementar :

Film porno biar bagaimana pun tetap merusak dan menghancurkan sebuah rumah tangga, karena fantasi sexual bisa mengarahkan kita ke selingkuh emosi, karena membayangkan seperti dalam fim, jika terus menerus dipupuk, maka sebentar lagi akan mengancam kebahagiaan rumah tangga.

membayangkan orang lain adalah salah satu bentuk penghianatan dalam sebuah perkawinan yg suci. Sebuah referensi telah lebih dulu memperingatkan : " bahwa apabila seorang pria memandang seorang wanita dan menginginkannya makan orang tersebut sudah berbuat zinah dalam hatinya".

Apabila hal ini dipupuk terus, maka akan mengarah ke perbuatan zinah yg sesungguhnya. Upah dosa adalah maut.- [Begitulah sebuah referensi menasihati kita semua]

[+/-] Selengkapnya...

Jangan Pelit Ucapkan Terima Kasih

Jangan Pelit Ucapkan Terima Kasih






shutterstock
Ilustrasi


KOMPAS.com — Kadang kala hal-hal kecil justru membuat hubungan Anda dan pasangan makin erat. Misalnya saja saling mengucapkan terima kasih. Dengan mengucapkan terima kasih, rasa kepuasan kita kepada pasangan juga akan meningkat.

Ungkapan syukur dan terima kasih, bila disampaikan dengan tulus, akan meningkatkan kekuatan sebuah hubungan. Demikian menurut Nathaniel Lambert, pakar psikologi dalam jurnal Psychological Science.

"Saat kita mengekspresikan rasa terima kasih kepada seseorang, kita akan lebih fokus pada hal-hal baik yang telah dilakukan orang itu kepada kita. Hal ini akan membuat kita lebih fokus pada hal-hal positif dalam hubungan Anda dan dia," ujar Lambert.

Dalam penelitian yang dilakukan Lambert diketahui, mayoritas responden yang mengungkapkan rasa terima kasih mereka kepada orang terdekatnya merasa hubungannya menjadi lebih kuat. "Orang yang mendapat ungkapan terima kasih juga akan tergerak untuk melakukan hal yang sama," katanya.

Lambert menjelaskan, dalam kehidupan modern saat ini, kita cenderung berkutat dengan keuntungan pribadi. "Kita sering mencari-cari apa yang belum orang lakukan untuk kita. Di sinilah pentingnya ucapan terima kasih karena ia bisa mengubah fokus negatif menjadi positif," tuturnya.

Nah, bagaimana dengan Anda, apakah ucapan terima kasih sudah jadi barang langka dalam kehidupan dengan pasangan?

[+/-] Selengkapnya...

How To Tell If He's Really Mr. Right

How to tell if he's really Mr. Right


Dating 101: Is He Mr. Right?

5 essential traits to look for


By dating expert Lisa Steadman Updated: Mar 23, 2010


Dating couple hugging (Getty Images)

Think your Mr. Next has the potential to be Mr. Right? Before you leap without looking, take an honest inventory. See how many of the following five essential traits he possesses.

Dating Trait #1: He listens to you
The best way to know if Mr. Next is interested in (and worthyof) being a candidate for Mr. Right? He listens to you. You'll know he's listening when he shows genuine concern, consistently remembers things you've told him (your birthday, favorite food, best friend's name, etc.), and offers emotional support in honest and thoughtful ways.

Dating Trait #2: He connects with you easily
We've all been in those relationships that take W-O-R-K (and suck the life force out of us in the process). When a relationship works on its own, it feels effortless, easy, and fluid. You don't have to force anything, forgive anyone, or turn a blind eye to red flags or gut-twisters. Instead, you communicate and collaborate with comfort, compatibility, and undeniable chemistry. If and when you experience this kind of interaction, you are on to something really special.

Dating Trait #3: He wants the real you
So often, women feel the need to sacrifice some part of themselves to make a relationship work. In the right relationship, there's no need. You don't have to hide, tone down, or apologize for any aspect of you or your fabulous life. With the right partner, you're not only able to be yourself, but you're better able to be the best version of your most authentic self -- no compromises needed.

Dating Trait #4: He's trustworthy
“A relationship without trust is doomed from the start.”
A relationship without trust is doomed from the start. But a relationship with abundant trust? A fabulous foundation for real and lasting love! Built over time, trust is based on the simple belief system that your partner has your best interests at heart and will never intentionally hurt you (and vice versa). If and when you discover that Mr. Next is 100 percent trustworthy, you'll have no trouble giving your heart to him. In return, he'll most likely give you his heart and pave the way for a lasting, loving relationship to unfold.

Dating Trait #5: He enriches your life
In the wrong relationship, your partner tears you to emotional shreds, brings you down, and in general drains your energy. In the right relationship, he enriches your life, inspires you to be your best self, and brings a sense of peace and possibility to you. You'll know Mr. Next is enriching your life if and when he encourages and supports you professionally, personally, and spiritually. And when he does, he may just be Mr. Right!

Does your Mr. Next possess all five qualities? If so, congratulations! You have done your homework, chosen wisely, and are now well positioned for relationship success.

If not, pick yourself up, dust yourself off, and get back into the dating pool with a clearer understanding of who you want to date. Remember, finding your life partner isn't always easy, but by being clear, honoring yourself, and acting accordingly, you'll cut down on wasted time with Mr. Wrong and Mr. Next, and ultimately make room for Mr. Right.



[Sumber : Yahoo Personals]





[+/-] Selengkapnya...

Peran Vital Para Ayah

Father reading with daughter






Peran Vital Para Ayah




”SEMAKIN banyak pria muda yang ingin berperan aktif dalam membesarkan anak mereka. Delapan puluh dua persen pria berusia 21 sampai 39 tahun memilih jadwal kerja yang memberi mereka lebih banyak waktu bersama keluarga,” kata surat kabar Toronto Star di Kanada tentang penelitian dari Universitas Harvard baru-baru ini. Menurut penelitian ini, yang menyurvei 1.008 pria dan wanita AS berusia 21 sampai 65 tahun lebih, 71 persen pria muda mengatakan bahwa mereka ”bersedia kehilangan sebagian gaji mereka agar dapat memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga”.

Mengapa banyak ayah ingin lebih terlibat dalam membesarkan anak-anak mereka? David Blankenhorn, salah seorang pendiri National Fatherhood Initiative, organisasi yang mengimbau para ayah untuk bertanggung-jawab dan berkomitmen, menulis bahwa dalam sebuah survei atas 1.600 pria AS pada tahun 1994, 50 persen mengatakan bahwa ayah mereka tidak memenuhi kebutuhan emosi mereka sewaktu mereka masih anak-anak. Dewasa ini, banyak ayah tidak ingin melihat pola itu terulang lagi.

Para ayah yang secara aktif terlibat dalam membesarkan anak-anak mereka dapat memberikan pengaruh yang sehat. Sewaktu mengomentari riset yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat AS, The Toronto Star mengatakan bahwa apabila para ayah makan dan bepergian bersama mereka serta membantu mereka mengerjakan PR, ”problem perilaku akan berkurang, kemampuan bergaul bertambah baik, dan prestasi sekolah meningkat di kalangan anak-anak dan remaja”.

Keterangan di atas menandaskan pengaturan membesarkan anak yang sampai sekarang masih sepraktis pertama kali hal itu ditulis lebih dari tiga ribu tahun yang lalu. Sang Pemrakarsa keluarga secara spesifik menginstruksikan kepada para ayah untuk terlibat aktif dalam membesarkan anak-anak. Para ayah dinasihatkan untuk menanamkan kasih akan Penciptanya di dalam hati anak-anak dan berbicara kepada mereka tentang peraturan dan perintah Penciptanya. Pencipta Agung kita memberi tahu mereka untuk melakukan hal ini ’sewaktu mereka duduk di rumah dan apabila mereka sedang dalam perjalanan dan sewaktu mereka berbaring dan apabila mereka bangun’.—[Dari Sebuah Referensi]

Membesarkan anak adalah tanggung-jawab bersama. Sebuah Referensi menasihati anak-anak, ”Dengarkanlah disiplin bapakmu, dan jangan meninggalkan hukum ibumu.” Peran ayah sangat vital. Ini mencakup mendukung serta menghormati sang ibu dan ikut serta dalam melakukan tugas-tugas membesarkan anak. Hal itu juga mencakup menyediakan waktu untuk membaca dan berbincang-bincang dengan anak-anak. Semua itu dapat memenuhi kebutuhan emosi vital anak-anak.

Tidak diragukan, nasihat tersebut di atas adalah sumber nasihat dan prinsip masuk akal yang paling dapat diandalkan bagi keluarga yang senang menyesuaikan diri. Seorang ayah yang dengan aktif menyediakan kebutuhan rohani, emosi, dan materi bagi keluarganya berarti memenuhi tanggung-jawab yang diberikan Penciptanya. [Diedit]



Sumber :
Appeared in Awake! August 22, 2001
Copyright 2006 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania. All rights reserved.
terjemahan Bahasa Indonesia : Watchtower Library 2008

[+/-] Selengkapnya...

Power Of Hugging


[Sumber Google Image]


POWER OF HUGGiNG



"Jika rumah tangga Anda di ambang kehancuran, peluklah pasangan Anda 20 kali sehari. Saya yakin Anda berdua tak akan bercerai," kata therapist keluarga asal Amerika Serikat, Virginia Satir

Virginia mengatakan, setiap manusia membutuhkan empat pelukan sehari utk bertahan hidup, delapan pelukan untuk kesehatan, dan 12 pelukan untuk awet muda dan kebahagiaan.

Saat berpelukan, tubuh melepaskan hormon oxytocin yang berhubungan dengan perasaan damai dan cinta. Hormon ini membuat jantung dan pikiran sehat. Terapi pelukan hampir sama dengan therapy jalan kaki. Pelukan dapat meningkatkan keseimbangan tubuh, kesehatan, dan mengurangi tingkat stress, khususnya para profesional muda yang bekerja di kota metropolitan.

Pelukan ini tak sama fungsinya dengan berjabat tangan dan mencium pipi. Therapy yang dimaksud yakni saling menyentuh. Meski demikian, pelukan tak hanya dapat dilakukan kepada suami ataupun kekasih Anda. Therapy ini dapat dilakukan pada keluarga, saudara, anak, ataupun orang tua. Yang pasti, pelukan ini tak berkonotasi negatif apalagi mengikutsertakan gairah.

Pendapat senada dilontarkan Dr. Harold Voth, Senior Psikiater di Kansas. Voth pernah meneliti beberapa ratus orang. Ia menemukan orang yang saling berpelukan mampu mengusir stress. Kekebalan tubuhnya meningkat, awet muda, tidur lebih nyenyak, dan stamina lebih sehat.

Ini berlaku juga pada anak-anak. Jika anak Anda rewel, peluklah dia. Sang bayi akan merasa aman sehingga berpengaruh pada kekebalan tubuhnya.

Pelukan juga dapat mengurangi sakit fisik maupun psikis. Pelukan dari orang yang dicintai dapat mengubah emosi negatif menjadi positif.

Jadi, siapkan pelukan terbaik Anda untuk orang-orang yang Anda cintai...



[Sumber : Nelleke S]




[+/-] Selengkapnya...

Uang Atau Waktu Senggang



[ilistrasi Photo : Google Image]



Uang Atau Waktu Senggang



Bebarapa pakar abad ke-20 percaya bahwa kemajuan teknologi akan membebaskan orang dari pekerjaan yang melelahkan sehingga dapat menikmati "waktu senggang yang tidak ada bandingannya".

Pada awal tahun 1930-an, Profesor Julian Huxley meramalkan bahwa di masa depan tak seorang pun perlu bekerja lebih dari dua hari seminggu. Pengusaha Walter Giffort menyatakan bahwa teknologi akan memberikan kepada "setiap orang kesempatan melakukan apa yang diinginkannya . . . . . lebih banyak waktu untuk menikmati kehidupan [dan] melakukan berbagai aktivitas yang memuaskan hati dan pikiran".

Tetapi, bagaimana dengan ambisi orang -orang untuk hal-hal materi? Sosiolog Henry Fairchild dengan bangga mengatakan bahwa pabrik-pabrik akan "menghasilkan lebih banyak barang daripada yang bisa kita gunakan dengan rata-rata bekerja . . . . tidak lebih dari empat jam sehari".

Seberapa akuratkah ramalan tersebut? Pertumbuhan ekonomi selama abad ke-20 dan ke-21 memang pesat dan luar biasa. Berdasarkan teori, hal ini seharusnya mengurangi beban pekerjaan secara signifikan. Namun, apa yang terjadi? John de Graaf menulis, "[orang-orang] telah memutuskan untuk menggunakan produktivitas tambahan ini guna memupuk lebih banyak uang dan barang ketimbang menikmati lebih banyak waktu senggang. Intinya, kita sebagai masyarakat lebih memilih uang daripada watu senggang."




[Sumber : "Sedarlah!", g10 01-IN, h. 6]






[+/-] Selengkapnya...

Bagaimana Dengan Menikah Lagi?


[Ilustrasi Photo : Google Image]




Bagaimana Dengan Menikah Lagi?




Sebuah referensi menunjukkan bahwa kematian mengakhiri ikatan perkawinan, dengan demikian memberi kesempatan kepada pasangan yang masih hidup untuk menikah lagi. Tentu saja, menikah lagi atau tidak sepenuhnya merupakan keputusan pribadi.

Akan tetapi, penting agar anak-anak diberitahu tentang keputusan orang tua mereka dan sebisa-bisanya memberikan dukungan. Andres, misalnya, pada awalnya menentang keinginan ayahnya untuk menikah lagi. Ia sangat menyayangi ibunya dan merasa bahwa tidak ada yang boleh menggantikan tempatnya.

"Tapi, saya segera sadar bahwa ayah saya membuat keputusan yang baik," katanya. "Perkawinan membuat ia ceria lagi. Ia mulai melakukan hal-hal yang tidak dilakukannya untuk beberapa waktu, seperti mengadakan perjalanan. Dan, tentu saja saya berterima kasih kepada istri barunya karena mengurusnya dengan begitu baik secara fisik dan emosi."




[Sumber : Menara Pengawal 01 Maret 2010, h. 21 - dari edisi lengkap di bawah judul : "Hingga Kematian Memisahkan Kita"]

[+/-] Selengkapnya...

Tantangan Bercinta Setiap Hari Selama 1 Bulan

Tentu saja hal ini direkomendasikan bagi suami istri yang sah! Sungguh hebatnya hal ini disarankan oleh seorang pastur yang tentu saja mereka tidak boleh melakukan hal ini, karena seorang pastur dilarang untuk memiliki seorang istri.



Tantangan Bercinta Setiap Hari Selama 1 Bulan



Selain mampu kembalikan kemesraan, tapi juga mencegah suami istri terserang penyakit.


Petti Lubis, Lutfi Dwi Puji Astuti



(doc Corbis)







VIVAnews - Mengacu pada makin tingginya tingkat perceraian yang terjadi, seorang pastor di Florida, Paul Wirth, menciptakan 'The 30-Day Sex Challenge'. Tantangan bercinta selama satu bulan ini dimaksudkan agar pasangan suami istri yang sibuk bisa menyedikan waktu untuk bercinta setiap hari.

Tantangan ini mungkin bisa jadi resolusi paling mudah tahun ini. Pasalnya, berhubungan seks lebih sering dianggap bisa memberikan banyak manfaat buat Anda dan pasangan.

Tidak hanya membuat Anda merasa lebih dekat dengan pasangan Anda, tapi bisa juga mencegah segala macam penyakit. Sebuah penelitian menemukan, menjalani seks lebih sering bisa menghambat pertumbuhan sel-sel kanker dalam tubuh.

Selain itu, pasangan yang lebih sering melakukan adegan 'nakal' di ranjang cenderung akan lebih ramping daripada pasangan yang jarang bercinta. Berdasarkan hasil penelitian, bercinta bisa membakar 50-60 kalori.

Cobalah ajak pasangan untuk membuktikannya. Menjalani aktivitas bercinta setiap hari selama satu bulan ini juga dapat mengusir kebiasaan buruk. Seperti merokok, dan mengonsumsi cokelat. Hasilnya pun memang benar-benar mengejutkan.

Seringkali, memang sulit menyediakan waktu untuk bercinta bersama pasangan. Hal ini karena dipengaruhi oleh rutinitas terlalu padat. Sehingga rasanya Anda atau pasangan tak punya waktu berduaan, meski hanya 30 menit sehari. Maka itu, ketika Anda sedang menyortir beberapa agenda rutin Anda, coba selipkan satu gagasan penting menyediakan waktu setiap hari selama 30 hari untuk merasakan efek dari tantangan ini.

Bagaimana dengan Anda? Apa Anda dan pasangan tertarik mempraktekkan tantangan ini?


• VIVAnews

[+/-] Selengkapnya...

Template by : Kendhin x-template.blogspot.com