Custom Search

"Pengobatan Gratis Kaum Papa, Diupayakan Rumah Sehat"

Info For Us | info kesehatan

Sebuah referensi mengatakan : "Karena orang miskin selalu ada bersamamu,...".
 
Ternyata referensi itu berkata apa adanya dan memang terbukti benar, "orang2 miskin akan selalu ada bersama kita di mana saja berada, bukan?
 
Kewajiban kita semua utk lebih memperhatikan mereka semua!


Kabar gembira bagi warga miskin Jakarta. Kalau sakit, tak perlu merisaukan biaya berobat. Silakan datang ke Kompleks Masjid Sunda Kelapa, di sana ada rumah sakit mentereng untuk kaum papa, gratis lagi. Rumah Sakit yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pertengahan September silam itu namanya 'Rumah Sehat Sunda Kelapa'. Bagaimana cerita di balik pendirian Rumah Sehat ini? Apa kata kaum miskin, sasaran utama rumah sakit ini?
Pelayanan gratis
"Kita punya lingkungan dan jemaah yang kita kelola... Jadi bapak nanti mendapatkan formulir dari kita. Terus melengkapi KTP dan KK terus sama surat keterangan tidak mampu"
Itulah potongan jawaban untuk Abdulrahim. Pria ini, tengah berbincang dengan seorang petugas administrasi Rumah Sehat Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta. Lelaki paruh baya itu sedang bertanya cara mendapatkan pelayanan kesehatan gratis.

Mungkin, Anda belum tahu. Apa itu Rumah Sehat? Simak penjelasan Syaiful Hamid, Ketua Umum Masjid Sunda Kelapa. "Rumah sehat bukan rumah sakit, supaya nanti kami dijewer ibu menteri, kirim utusan mana izinnya untuk rumah sakit? Kami memang bukan rumah sakit. Kita bangun rumah sehat. Rumah sehat itu menyembuhkan orang yang sakit. Dan kalau perlu tidak menginap...dan barangkali ini pertama kalinya nama rumah sehat dipakai dilingkungan rumah ibadah islam"
 
Sebagai jembatan
Rumah Sehat terletak dalam Komplek Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta, kebetulan berhadapan dengan rumah dinas Wakil Presiden Jusuf Kalla. Saat peresmian gedung berlantai lima itu, hadir Menteri Kesehatan, Wakil Presiden Jusuf Kalla, serta Presiden Yudhoyono.
 
SBY: "Apa yang akan kita resmikan hari ini adalah contoh nyata pendekatan yang positif dan sehat membangun jembatan. Dari pada mempertentangkan membikin jarak tapi dengan jembatan itu mari kita ketuk hatinya kita dorong untuk lebih dermawan"
 
Rumah Sehat lima lantai ini menelan biaya Rp. 4,5 milyar, sebagian datang dari lembaga sosial, Dompet Dhuafa serta Badan Amil Zakat Nasional. Sebagian lagi dari kocek dermawan. Sementara tanahnya disumbangkan Masjid Sunda Kelapa, persis di belakang mesjid itu, seluas 200 meter persegi.
SBY: "Seraya memohon ridha Alloh swt dan dengan mengucapkan bismillah dengan ini rumah sehat Masjid Agung Sunda Kelapa saya resmikan penggunaannya..."
 
Untuk kaum miskin
Cita-cita mendirikan Rumah Sehat ini berawal dari keberhasilan Layanan Kesehatan Cuma-Cuma, LKC, di Ciputat, enam tahun lalu. Semula banyak yang ragu dengan keberlangsungan LKC yang beroperasi 24 jam ini. Namun terbukti, sekitar 40 ribu warga miskin di Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang dan Bekasi tercatat sebagai pasien LKC.
 
Direktur Rumah Sehat Sunda Kelapa, Fachri Mezzi bertutur, dari LKC, kini lahir Rumah Sehat di kawasan mentereng.
 
Fachri Mezzi: "Rumah sehat ini ide awalnya berangkat dari LKC Ciputat. Nampaknya kita masih membutuhkan layanan yang optimal dan kita dirikan di tengah kota. Dengan harapan ada jembatan antara duafa dan muzakki, yang berzakat "
 
Gelagat keberhasilan Rumah Sehat Sunda Kelapa sudah terlihat sejak satu bulan berdiri. Kata Fachri, Rumah Sehat ini sudah melayani lebih dari 600 keluarga miskin di wilayah Jabodetabek. Kelak, Rumah Sehat ini juga akan dibangun di Jatinegara, Bidara Cina, serta Grogol.
 
Tidak harus Islam
Syarat utama untuk bisa jadi pasien adalah miskin. Latar belakang agama tidak penting, meskipun Rumah Sehat ini berdiri di kompleks mesjid. Imam Ruliawan, dokter di Rumah Sehat Sunda Kelapa, sekaligus Direktur LKC Ciputat.
Imam Ruliawan: "Kalau untuk layanan kesehatan cuma-cuma kami menggunakan sumber dana dari Infaq dan Sadakah itu peruntukkannya memang bisa digunakan untuk non-muslim. Kalau dari zakat sumber dananya memang khusus muslim. Di Ciputat sendiri kami melayani pasien non muslim, Kristen dan Budha. Semuanya pada prinsipnya kesehatan tanpa membedakan agama tertentu"
 
Identitas pasien
Urusan administrasinyapun tak sulit. "Bisa mendaftarkan ke sini untuk mendapatkan kartu berobat gratis selama setahun. Caranya adalah datang ke sini. Membawa identitas pribadi seperti foto kopi KTP, dan kartu keluarga dan surat tidak mampu dari RT dan RW," jelas Fachri Mezzi.
Nah, kalau syarat administrasi sudah dipenuhi, maka petugas Rumah Sehat akan meneliti dulu rumah calon pasien. Jangan sampai si pasien hanya berpura-pura miskin, supaya bisa berobat gratis.
 
Fachri Mezzi: "Kemudian kita akan mengunjungi rumah yang bersangkutan untuk disurvey. Kita akan konfirmasi betul apa tidak dia orang miskin. Nanti setelah disurvey, maksimal satu pekan setelah dipastikan dia orang miskin, maka dia akan mendapatkan kartu yang berlaku untuk satu keluarga, bukan untuk satu orang. Kartu ini bisa dimanfaatkan untuk berobat gratis selama setahun. Dan setelah setahun kartu harus direvisi diperpanjang lagi"
 
Tapi, jangan khawatir. Kalau pasien datang dan harus segera ditangani, Rumah Sehat Sunda Kelapa tetap akan menerima pasien yang tidak miskin atau belum terdaftar. "Untuk kasus kegawatdaruratan kita mempunyai kebijakan kita tidak bisa menolak. Sekalipun dia bukan dhuafa kegawatdaruratannya kita tangani. Kalau dia kategori dhuafa, harus membutuhkan perawatan lebih lanjut maka dia bebas biaya. Jadi surveynya bisa sinergis bersamaan masa perawatan, " jelas Imam Ruliawan, dokter di RS Sunda Kelapa.
 
Sumbangan obat-obatan
Disinggung tentang persediaan obat-obatan untuk kaum papa ini, Apoteker Diah Utari, menjelaskan, "Obat-obatnya dari sumbangan Indofarma dan pengadaannya yang lain dari LKC Ciputat. Kalau obat murah yang Rp. 1000 ada? Oh dari Indofarma sumbangan ada tapi yang lain lumayan lengkap. Obatnya antibiotik, analgetik, sirup, salep, tetes mata lumayan lengkap"
Hal kemudian ditambahkan Fachri Mezzi, bahwa selain apotik, sejumlah fasilitas kesehatan lain juga sudah siap, seperti dituturkan Fachri Mezzi. "Kita menyediakan poli umum, poli gigi, UGD, laboratorium dan insya Allah akan dikembangkan dengan poli spesialis, lengkap dengan alat THT, mata dan USGnya. Jadi cukup lengkap. Tenaga kesehatannya kita ambil dari lulusan FK UI, FKG UI dan perawat dan bidan".
Saat ini tenaga kesehatan terdiri tiga dokter umum, satu dokter gigi dan delapan paramedis.
 
Disambut warga
Rumah Sehat Sunda Kelapa langsung disambut warga sekitar. Abdurahim, salah seorang warga dan pengurus masjid At Takwa Jakarta misalnya.
Abdurahim: "Masjid kamikan dananya terbatas, mungkin bisa kerja sama dengan lembaga ini. Dalam waktu dekat kita ingin menginduk ke sini. Jadi jemaah kita yang dhuafa selama kita tak mampu tanggulangi sendiri bisa ke sini"
 
Warga miskin Jakarta memanfaatkan betul rumah sehat ini. Sri Maryati misalnya. Warga Kemayoran, Jakarta Pusat itu sempat gundah ketika mengadukan nasib anaknya yang tengah sakit kepada petugas administrasi Rumah Sehat Sunda Kelapa. Anaknya yang baru berusia setahun sudah dua hari dirawat di rumah sakit akibat demam.
 
Sri Maryati: "Sekarang sudah dikamar, masih diinfus sama oksigen. Belum ada pemeriksaan lanjutan dari dokter. Hanya diberi suntikan. Saya bingung apa rumah sakit ini bisa membantu. Maksud saya kan saya mau minta rekomendasi rawat inap. Mudah-mudahan bisa membantu agar bisa di rawat di RS Islam"
 
Gratis semua
Walau panik, Sri tidak langsung membawa anaknya ke Rumah Sehat, ia tak tahu rumah sakit gratis itu sudah beroperasi. Tapi begitu tahu berobat di rumah sakit lain demikian mahal, ia ingin memindahkan anaknya ke Rumah Sehat Sunda Kelapa.
 
Hal serupa juga dirasakan Ratna Sumirat. "Untuk obat-obat sakit kepala dan darah tingginya dapat dari sini (LKC Ciputat). Gratis semua. Alhamdullilah"
Suara Ratna terdengar serak lantaran tenggorokannya bengkak. Warga miskin yang tinggal di Kwitang Jakarta Pusat itu mengidap penyakit kelenjar getah bening. Kata dokter mesti operasi. Tapi karena kamar operasi di Rumah Sehat Sunda Kelapa belum rampung, dokter meminta Ratna dioperasi di Layanan Kesehatan Cuma-Cuma LKC, Ciputat.
 
Ratna Sumirat: "Di sini sebenarnya akan dibangun kamar operasi tapi karena kamarnya belum jadi belum bisa. Di sana ada dokter bedahnya di LKC Ciputat 24 jam"
Bagi janda berusia 64 tahun ini Rumah Sehat Sunda Kelapa sangat membantu. Dan informasi tentang rumah sehat ini baru diketahuinya dari seseorang.
Ratna Sumirat: "Saya langsung sudah ditangani dokter. Alhamdulilah, moga-moga orang yang semacam saya bisa tertolong. Jangan kaya rumah sakit lain, duit didahulukan baru orang ditolong"
 
Pengakuan serupa juga terdengar dari warga miskin lain. Andi, warga Sulawesi Selatan yang tengah berada di Jakarta serta seorang pengemis yang menolak disebutkan namanya
 
Andi: "Tertulis sebagai musafir di sini untuk berobat. Katanya gejala wasir sekarang mau ambil obat. Membantu saya yang jauh dari keluarga dan tidak bawa uang untuk berobat ini kan kebutuhan yang tak terduga"
 
Pengemis: "Ya saya senang sekali karena bisa berobat secara gratis walaupun kita tidak Menginginkan sakit terus, tapi kan kalau sewaktu-waktu sakit bisa untuk masuk ke situ"
 
Melayani semua penyakit
Direktur Layanan Kesehatan Ciputat, LKC Ciputat, Imam Ruliawan menjelaskan LKC Ciputat dan Rumah Sehat Sunda Kelapa melayani semua panyakit. Jika tak tertangani, baru pasien akan dirujuk ke rumah sakit lain.
Imam Ruliawan: "Semua penyakit untuk kategori pelayanan dasar dan pelayanan spesialis tertentu bisa kita tangani dan memang harus dilakukan operasi kita rujuk ke rumah sakit referal dan pelayanan untuk LKC kita menjalin kerja sama dengan RSCM, RS Fatmawati dan RS swasta yang memberikan harga murah"
 
Direktur Rumah Sehat Sunda Kelapa, Fachri Mezzi menambahkan, selama dirawat di rumah sakit rujukan, biaya pengobatan pasien sampai sembuh, sepenuhnya ditanggung.
 
Fachri Mezzi: "Kita tanggungnya full, sekitar Rp 2 juta per bulan. Bahkan saat dirujukpun akan kami biayai. Memang ada biaya plafonnya sekitar 2 juta rupiah. Tapi biaya plafon ini fleksibel, nah di atas plafon kami cari donatur. Pengalaman sih selalu ada donatur yang bisa menutupi biaya plafon"


Artikel yang Berhubungan



0 comments:

Posting Komentar

Template by : Kendhin x-template.blogspot.com