Custom Search

Doa di Tengah debur Ombak | info for us

info religi

Upaya manusia dalam mencari pencerahan, inilah sisi manusia yg paling religius, bukti dari bahwa manusia memerlukan "Penolong yg Sejati".
Kemiskinan, kesusahan, penyakit, putus asa, kekhawatiran hidup, depresi merupakan bagian kehidupan hari lepas hari.
Apakah pemerintahan manusia sanggup memberikan kesejahteraan buat mereka, ternyata tidak, buktinya masyarakat di gunung Kidul ini lebih memilih berjalan kaki ke pantai perawan, ketimbang mereka berjalan menuju ke Keraton atau ke Istana Merdeka, berseru meminta tolong, tolong saya pak!
Padahal mereka berharap kepada apa yg tidak terlihat oleh mata, ketimbang mereka mengharapkan sesuatu dari yg bisa dilihat oleh mata!
Bukankah lebih sulit berharap kpd yg tdk terlihat daripada yg terlihat, namun itulah faktanya.



Sesaat setelah menjalankan shalat Idul Adha, warga dari berbagai pelosok Desa Tepus, Gunung Kidul, berbondong-bondong menuju Pantai Watulawang. Pantai perawan yang jarang dikunjungi wisatawan dengan jalanan setapak yang masih sulit dilewati kendaraan bermotor ini menjadi lokasi untuk menaikkan syukur kepada sang Pencipta.
Di bibir pantai yang dipenuhi aneka batuan berukuran sebesar rumah ini, ratusan warga mengalir datang silih berganti. Mereka membawa sesaji dalam wadah beranyam hiasan janur yang disebut bokor kencana.
Selain membawa persembahan sesaji bunga dan kemenyan, warga membawa serta nasi serta ingkung ayam pada Senin (8/12). Satu per satu warga lalu menyerahkan bokor kencana dan membakar kemenyan di mulut Goa Watu Lawang.

Sembari menunggu giliran, ratusan warga lainnya setia duduk di pelataran bernaung atap goa. Tetesan air dari stalagtit maupun asap tebal yang terjebak dan memenuhi ruang goa seakan tak mereka hiraukan.

Warga Dusun Jeruk Singkel, Darto Rejo (50), mengaku sudah dapat memperkirakan akan hadirnya masa-masa buruk dengan hasil pertanian yang tidak begitu menggembirakan.

Tanda-tanda datangnya masa sulit bagi pertanian saat ini pun sudah terlihat. Sawah-sawah petani di wilayah Tepus mulai terserang hama tikus. Padahal, saat ini petani baru memasuki awal musim tanam padi. Panenan akan melimpah jika semua batu tertutup pasir, tetapi saat ini batu-batu goa itu tak sepenuhnya tertutup pasir, tuturnya, mencoba membaca tanda alam.

Tiap tahun, menurut Darto, tradisi nyadran di Pantai Watulawang terus digelar oleh warga di Desa Tepus. Meskipun tidak mengetahui asal-muasal sadranan, warga tetap setia menjalankan ritual tersebut karena aneka permohonan yang mereka lantunkan di goa tersebut sering kali terkabul.

Biasanya warga bernazar akan menyediakan makanan kenduri di hari nyadran apabila permohonan terkabul. Darto mengaku tahun lalu sempat berdoa untuk kesembuhan cucunya yang sakit sesak napas.

Saat ini, ia membawa satu ekor ingkung ayam sebagai perwujudan syukur yang nantinya dibagi sebagai konsumsi bagi semua pengunjung. Orang Jawa itu sangat besar rasa prihatinnya. Laku berdoa di goa merupakan wujud keprihatinan, ungkapnya. Marto Rejo (60) bahkan mulai membagikan ritual syukur tersebut kepada cucunya yang masih duduk di bangku kelas satu sekolah dasar, Edi Purniawan.

Edi yang riang bermain di pantai pun mulai diajar senantiasa bersyukur dalam hidup. Kentalnya keinginan bersyukur ini pula yang mendorong warga rela berjalan kaki di bawah derasnya hujan menuju pantai.

Biasanya upacara nyadran digelar setiap tahun sekali pada Senin Kliwon. Waktu pelaksanaannya biasanya dirembuk terlebih dahulu melalui musyawarah desa. Upacara nyadran turut menghidupkan perekonomian kecil dengan munculnya pedagang dadakan di sepanjang pantai. (WKM)

(Sumber: www.kompas.com)

Artikel yang Berhubungan



0 comments:

Posting Komentar

Template by : Kendhin x-template.blogspot.com